Banyak pemilik bisnis memulai perjalanan jualan online melalui marketplace. Alasannya sederhana: mudah digunakan, memiliki traffic besar, dan memungkinkan produk langsung dijual tanpa perlu membangun website dari nol.
Bagi bisnis yang baru memulai, marketplace memang menjadi salah satu cara tercepat untuk mendapatkan pelanggan pertama.
Namun ketika bisnis mulai berkembang, muncul pertanyaan yang sering ditanyakan banyak seller:
Apakah lebih menguntungkan terus berjualan di marketplace atau mulai memiliki website sendiri?
Pertanyaan ini semakin relevan karena biaya marketplace terus meningkat, persaingan semakin ketat, dan banyak brand mulai membangun channel penjualan yang mereka miliki sendiri.
Agar tidak salah mengambil keputusan, mari bandingkan marketplace dan website dari berbagai aspek penting dalam bisnis online.
Kenapa Banyak Bisnis Memulai dari Marketplace?
Marketplace memberikan keuntungan yang sulit ditolak terutama bagi bisnis yang baru berkembang.
Beberapa alasannya antara lain:
- Traffic sudah tersedia.
- Proses transaksi sudah siap digunakan.
- Tidak perlu memikirkan sistem pembayaran.
- Customer sudah terbiasa berbelanja.
- Biaya awal relatif rendah.
Karena itulah marketplace sering menjadi tempat terbaik untuk melakukan validasi produk dan mendapatkan penjualan awal.
Namun seiring bertambahnya omzet, kebutuhan bisnis biasanya ikut berubah.
7 Perbandingan Marketplace vs Website untuk Bisnis Jangka Panjang
1. Traffic: Marketplace Unggul di Awal
Salah satu kekuatan terbesar marketplace adalah jumlah pengunjung yang sangat besar.
Seller dapat langsung mendapatkan peluang penjualan tanpa harus membangun audiens dari nol.
Website membutuhkan usaha lebih untuk mendapatkan traffic melalui:
- SEO
- Google Ads
- Meta Ads
- Email Marketing
- Content Marketing
Pemenang: Marketplace
2. Branding: Website Jauh Lebih Kuat
Di marketplace, tampilan toko mengikuti aturan platform.
Akibatnya hampir semua toko terlihat mirip.
Sementara website memungkinkan bisnis membangun identitas brand secara lebih profesional.
Mulai dari:
- desain,
- warna,
- pengalaman pengguna,
- hingga storytelling brand.
Semua dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.
Pemenang: Website
3. Data Customer: Website Memberikan Kontrol Penuh
Data pelanggan merupakan aset yang sangat berharga dalam bisnis modern.
Di marketplace, akses terhadap data customer biasanya terbatas.
Sebaliknya, website memungkinkan bisnis membangun:
- database pelanggan,
- email marketing,
- WhatsApp marketing,
- loyalty program,
- hingga strategi retargeting.
Karena itu banyak brand besar mulai mengarahkan pelanggan ke website mereka sendiri.
Pemenang: Website
4. Repeat Order: Website Lebih Mudah Dikelola
Repeat order merupakan salah satu indikator bisnis yang sehat.
Dengan website, bisnis dapat membuat berbagai strategi untuk mendorong pelanggan kembali membeli.
Contohnya:
- voucher pelanggan lama,
- email follow-up,
- reminder pembelian ulang,
- program membership.
Hal ini jauh lebih sulit dilakukan jika seluruh transaksi hanya bergantung pada marketplace.
Pemenang: Website
5. Biaya Penjualan: Marketplace Memiliki Potongan yang Lebih Besar
Saat omzet mulai meningkat, biaya marketplace menjadi semakin terasa.
Seller perlu memperhitungkan:
- biaya admin,
- biaya layanan,
- biaya iklan,
- cashback,
- program gratis ongkir,
- dan berbagai campaign promosi.
Jika dijumlahkan, total potongan dapat mencapai 15%–30% dari nilai transaksi.
Website memang memiliki biaya pengembangan dan operasional, tetapi tidak mengenakan komisi per transaksi seperti marketplace.
Pemenang: Website
6. Kecepatan Mendapatkan Penjualan: Marketplace Lebih Cepat
Jika target utama adalah mendapatkan penjualan dalam waktu singkat, marketplace masih menjadi pilihan yang sangat efektif.
Karena customer sudah berada di dalam platform, proses pembelian dapat terjadi lebih cepat.
Website membutuhkan strategi pemasaran yang lebih terencana.
Pemenang: Marketplace
7. Aset Jangka Panjang: Website Lebih Menguntungkan
Marketplace adalah platform milik pihak ketiga.
Website adalah aset digital milik bisnis Anda sendiri.
Perbedaannya sangat besar.
Jika suatu saat marketplace mengubah aturan, menaikkan biaya, atau mengubah algoritma, seller harus mengikuti kebijakan tersebut.
Sedangkan website memberikan kontrol yang jauh lebih besar terhadap perkembangan bisnis.
Pemenang: Website
Baca juga: Biaya Komisi Marketplace Indonesia 2026: Shopee, Tokopedia, Lazada & TikTok Shop [Data Lengkap]
Tabel Perbandingan Marketplace vs Website
| Faktor | Marketplace | Website |
|---|---|---|
| Traffic Awal | Sangat Tinggi | Perlu Dibangun |
| Branding | Terbatas | Penuh |
| Data Customer | Terbatas | Milik Bisnis |
| Repeat Order | Sedang | Tinggi |
| Komisi Penjualan | Ada | Tidak Ada |
| Fleksibilitas Promosi | Terbatas | Tinggi |
| Aset Jangka Panjang | Tidak | Ya |
Jika dilihat dari tabel di atas, marketplace unggul untuk mendapatkan traffic dan penjualan awal. Namun website unggul dalam membangun bisnis yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Strategi Terbaik Bukan Memilih Salah Satu
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap marketplace dan website harus dipilih salah satu.
Padahal banyak brand sukses justru menggunakan keduanya secara bersamaan.
Marketplace digunakan untuk:
- mendapatkan pelanggan baru,
- meningkatkan exposure produk,
- dan mempercepat penjualan.
Sedangkan website digunakan untuk:
- membangun branding,
- mengumpulkan database customer,
- meningkatkan repeat order,
- dan menjaga margin profit.
Strategi ini sering disebut sebagai multi-channel ecommerce strategy, yaitu memanfaatkan beberapa channel penjualan secara bersamaan agar bisnis tidak bergantung pada satu platform saja.
Baca juga: Cara Lepas dari Ketergantungan Marketplace: Panduan Lengkap untuk Brand Indonesia (2026)
Kapan Bisnis Sebaiknya Mulai Memiliki Website?
Biasanya bisnis mulai mempertimbangkan website ketika:
✓ omzet mulai stabil
✓ biaya marketplace semakin besar
✓ ingin membangun brand sendiri
✓ ingin mengumpulkan database customer
✓ ingin meningkatkan repeat order
✓ ingin memiliki aset digital jangka panjang
Jika beberapa kondisi di atas sudah mulai dirasakan, maka website bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi bagian penting dari strategi pertumbuhan bisnis.
Kesimpulan
Marketplace tetap menjadi salah satu channel terbaik untuk memulai bisnis online karena menawarkan traffic besar dan proses penjualan yang cepat.
Namun untuk pertumbuhan jangka panjang, website memberikan keuntungan yang lebih besar dalam hal branding, database customer, repeat order, dan kontrol terhadap bisnis.
Karena itu banyak brand modern tidak meninggalkan marketplace, tetapi menggunakannya bersama website untuk menciptakan sistem penjualan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Ingin Memiliki Website Ecommerce untuk Bisnis Anda?
Jika bisnis Anda mulai ingin memiliki channel penjualan sendiri di luar marketplace, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai membangun aset digital jangka panjang.
✔️ Website & aset digital menjadi milik penuh klien setelah kontrak selesai
✔️ Integrasi payment gateway dan logistik otomatis
✔️ CMS mudah dikelola tanpa perlu kemampuan teknis
✔️ Dirancang untuk mendukung pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang
Pelajari layanan jasa pembuatan website ecommerce dan solusi ecommerce development untuk bisnis Anda melalui halaman layanan Jangkar.
Baca juga: Repeat Order Website: 7 Alasan Customer Lebih Mudah Kembali Membeli (2026)

![Biaya Komisi Marketplace Indonesia 2026: Shopee, Tokopedia, Lazada & TikTok Shop [Data Lengkap]](https://jangkar.io/wp-content/uploads/2026/06/JTI-1.webp)

