Banyak pelaku bisnis online memulai perjalanan mereka melalui marketplace. Platform seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, dan TikTok Shop menawarkan akses ke jutaan calon pembeli sehingga proses mendapatkan penjualan terasa lebih mudah.
Namun, seiring perkembangan bisnis, muncul tantangan baru yang mulai dirasakan banyak seller: biaya admin marketplace terus meningkat.
Komisi platform, biaya layanan, iklan, voucher promo, hingga program gratis ongkir membuat margin keuntungan semakin tertekan. Akibatnya, meskipun omzet terlihat naik, keuntungan bersih yang diterima tidak selalu ikut bertambah.
Lalu bagaimana cara menjaga profit tanpa harus menaikkan harga dan kehilangan daya saing?
Artikel ini membahas strategi yang mulai diterapkan banyak brand untuk menjaga margin tetap sehat di tengah kenaikan biaya marketplace.
Kenapa Banyak Seller Mulai Mengeluhkan Biaya Admin Marketplace?
Marketplace memang memberikan banyak keuntungan, mulai dari traffic yang besar hingga proses transaksi yang praktis.
Namun setiap transaksi biasanya disertai berbagai komponen biaya yang perlu diperhitungkan.
Beberapa di antaranya meliputi:
- Biaya admin marketplace
- Komisi penjualan
- Biaya layanan
- Voucher promo
- Gratis ongkir
- Iklan marketplace
- Cashback campaign
- Risiko retur dan komplain
Jika dihitung secara keseluruhan, total potongan tersebut dapat mencapai belasan hingga puluhan persen dari harga jual, tergantung kategori produk dan program yang diikuti.
Semakin besar omzet bisnis, semakin besar pula nominal biaya yang harus dibayarkan setiap bulan.
Simulasi Potongan Marketplace yang Sering Terlewat
Banyak seller hanya melihat omzet tanpa menghitung seluruh biaya yang mengurangi keuntungan.
Berikut ilustrasi sederhana.
| Komponen | Contoh |
|---|---|
| Harga produk | Rp100.000 |
| Biaya admin & komisi | Rp8.000 |
| Voucher promo | Rp5.000 |
| Gratis ongkir | Rp3.000 |
| Iklan marketplace | Rp7.000 |
| Total potongan | Rp23.000 |
Pada contoh di atas, seller hanya menerima sekitar Rp77.000 sebelum dikurangi biaya operasional seperti modal produk, pengemasan, dan tenaga kerja.
Inilah alasan mengapa omzet yang tinggi belum tentu menghasilkan keuntungan yang besar.
Baca juga: Biaya Komisi Marketplace Indonesia 2026: Shopee, Tokopedia, Lazada & TikTok Shop [Data Lengkap]
1. Bangun Branding agar Tidak Terjebak Perang Harga
Bisnis yang memiliki branding kuat biasanya tidak hanya bersaing melalui harga.
Pelanggan juga mempertimbangkan:
- kepercayaan terhadap brand,
- kualitas layanan,
- pengalaman berbelanja,
- dan reputasi bisnis.
Semakin kuat brand yang dibangun, semakin kecil tekanan untuk terus memberikan diskon demi mendapatkan penjualan.
2. Miliki Database Customer Sendiri
Salah satu tantangan terbesar di marketplace adalah keterbatasan akses terhadap data pelanggan.
Padahal database customer merupakan aset yang sangat penting untuk meningkatkan repeat order.
Melalui website sendiri, bisnis dapat mulai membangun:
- database pelanggan,
- email marketing,
- WhatsApp marketing,
- hingga program loyalitas pelanggan.
Dengan begitu, peluang memperoleh penjualan ulang tidak hanya bergantung pada algoritma marketplace.
3. Diversifikasi Channel Penjualan
Marketplace tetap menjadi sumber traffic yang sangat baik.
Namun akan lebih sehat jika bisnis juga memiliki channel lain, seperti:
- website ecommerce,
- Google Search,
- media sosial,
- email marketing,
- atau WhatsApp Business.
Semakin banyak sumber traffic yang dimiliki, semakin kecil risiko ketika terjadi perubahan kebijakan marketplace.
4. Optimalkan Margin, Bukan Hanya Omzet
Kesalahan yang sering terjadi adalah mengejar penjualan sebanyak mungkin tanpa menghitung keuntungan bersih.
Mulailah mengevaluasi beberapa indikator berikut secara rutin:
- margin keuntungan,
- biaya iklan,
- biaya marketplace,
- repeat order,
- dan nilai transaksi rata-rata.
Dengan memahami angka-angka tersebut, keputusan bisnis dapat dibuat berdasarkan profit, bukan sekadar omzet.
5. Bangun Website Ecommerce sebagai Aset Digital
Semakin banyak brand mulai memanfaatkan website sebagai pelengkap marketplace.
Bukan untuk meninggalkan marketplace, tetapi untuk membangun channel yang benar-benar dimiliki sendiri.
Website membantu bisnis:
- membangun branding,
- mengumpulkan database pelanggan,
- meningkatkan repeat order,
- memperkuat kredibilitas,
- dan mengurangi ketergantungan terhadap perubahan biaya marketplace.
Baca juga: Cara Lepas dari Ketergantungan Marketplace: Panduan Lengkap untuk Brand Indonesia
Marketplace dan Website Bisa Berjalan Bersama
Kesalahan yang sering muncul adalah menganggap website harus menggantikan marketplace.
Padahal strategi yang banyak diterapkan brand berkembang justru menggabungkan keduanya.
| Marketplace | Website |
| Mendapatkan pelanggan baru | Membangun loyalitas pelanggan |
| Memanfaatkan traffic platform | Mengembangkan traffic milik sendiri |
| Meningkatkan awareness | Memperkuat branding |
| Menghasilkan transaksi awal | Meningkatkan repeat order |
Dengan strategi seperti ini, bisnis memiliki sumber penjualan yang lebih stabil dan tidak bergantung pada satu platform saja.
Kesimpulan
Kenaikan biaya admin marketplace merupakan tantangan yang kini dihadapi banyak pelaku bisnis online.
Alih-alih langsung menaikkan harga jual, ada berbagai strategi yang dapat dilakukan untuk menjaga margin tetap sehat, mulai dari membangun branding, mengelola database pelanggan, memperluas channel penjualan, hingga memiliki website ecommerce sendiri.
Marketplace tetap menjadi tempat yang efektif untuk memperoleh pelanggan baru. Namun memiliki aset digital sendiri akan membantu bisnis tumbuh lebih stabil, lebih mandiri, dan lebih siap menghadapi perubahan di masa depan.
Saatnya Mengelola Profit Bisnis dengan Strategi yang Lebih Sehat
Jika Anda ingin mengetahui seberapa besar biaya marketplace yang selama ini memengaruhi keuntungan bisnis, coba gunakan Kalkulator Efisiensi Biaya Marketplace dari Jangkar Digital.
Setelah itu, pelajari bagaimana Website Ecommerce Jangkar Digital dapat membantu membangun aset digital yang benar-benar menjadi milik bisnis Anda, atau konsultasikan kebutuhan bisnis Anda gratis bersama tim kami tanpa komitmen.
Baca juga: Marketplace vs Website: 5 Aset Bisnis yang Diam-Diam Anda Korbankan



