Kalau bisnis kamu sudah menghasilkan omzet Rp50 juta per bulan, mungkin ada satu pertanyaan yang mulai muncul:
“Lebih enak terus jualan di marketplace atau mulai punya website sendiri?”
Jawabannya sebenarnya tidak sesederhana:
Marketplace mahal. Website murah.
Karena keduanya punya model biaya dan fungsi yang berbeda.
Marketplace memberikan sesuatu yang sangat berharga:
traffic yang sudah tersedia.
Sementara website memberikan sesuatu yang tidak kalah penting:
kontrol atas channel penjualan sendiri.
Jadi daripada sekadar membandingkan harga pembuatan website, lebih menarik kalau kita hitung menggunakan satu contoh nyata.
Misalnya:
Sebuah bisnis menghasilkan omzet Rp50 juta per bulan.
Berapa kira-kira biaya yang keluar jika seluruh penjualan bergantung pada marketplace?
Dan bagaimana kalau sebagian penjualan mulai dialihkan ke website sendiri?
Mari kita hitung.
Omzet Rp50 Juta Bukan Berarti Rp50 Juta Masuk ke Kantong
Ini bagian yang sering dilupakan.
Ketika dashboard marketplace menunjukkan:
Rp50.000.000 omzet
angka tersebut bukan berarti bisnis mendapatkan Rp50 juta secara bersih.
Ada berbagai biaya yang bisa muncul, seperti:
- biaya administrasi atau komisi,
- biaya layanan,
- biaya program promo,
- iklan,
- voucher,
- cashback,
- dan biaya operasional.
Besarnya biaya juga dapat berbeda berdasarkan marketplace, kategori produk, jenis seller, program yang diikuti, serta kebijakan yang berlaku.
Karena itu, simulasi di artikel ini bukan angka fee resmi untuk semua marketplace.
Kita menggunakan angka contoh untuk melihat bagaimana struktur biaya bekerja.
Simulasi 1: Jualan Rp50 Juta Sepenuhnya di Marketplace
Misalnya bisnis mendapatkan:
Omzet: Rp50.000.000/bulan
Kemudian kita gunakan simulasi biaya sebagai berikut:
| Komponen | Simulasi | Biaya |
|---|---|---|
| Fee marketplace | 8% | Rp4.000.000 |
| Iklan | 5% | Rp2.500.000 |
| Promo/voucher seller | 3% | Rp1.500.000 |
| Operasional tambahan | 2% | Rp1.000.000 |
| Total biaya channel | 18% | Rp9.000.000 |
Dengan simulasi tersebut:
Rp50 juta − Rp9 juta = Rp41 juta
Artinya, sebelum menghitung modal produk dan biaya bisnis lainnya, sekitar Rp9 juta sudah digunakan untuk biaya yang berkaitan dengan channel penjualan.
Tentu saja, angka aktual setiap bisnis bisa berbeda.
Tetapi justru di sinilah poin pentingnya:
Semakin besar omzet, persentase kecil bisa berubah menjadi nominal yang besar.
Kalau Omzet Rp50 Juta, Fee 5% Saja Sudah Berapa?
Coba kita sederhanakan.
Jika total biaya tertentu hanya:
5%
maka:
5% × Rp50.000.000 = Rp2.500.000
Setahun:
Rp2.500.000 × 12 = Rp30.000.000
Jadi biaya yang terlihat “cuma 5%” ternyata bisa menjadi:
Rp30 juta per tahun.
Sekarang bayangkan jika total biaya channel mencapai 10%, 15%, atau bahkan lebih.
Inilah mengapa seller yang sudah mulai scale up perlu melihat biaya bukan hanya per transaksi, tetapi juga secara tahunan.
Baca juga: Biaya Komisi Marketplace Indonesia 2026: Shopee, Tokopedia, Lazada & TikTok Shop [Data Lengkap]
Lalu Bagaimana Kalau Menggunakan Website?
Nah, di sini cara menghitungnya sedikit berbeda.
Website ecommerce tidak biasanya menggunakan model:
“Setiap transaksi dipotong sekian persen oleh website.”
Sebaliknya, ada biaya yang lebih bersifat fixed atau semi-fixed, seperti:
- pembuatan website,
- domain,
- hosting/server,
- maintenance,
- payment gateway,
- dan digital marketing.
Artinya, biaya website tidak selalu naik secara linear mengikuti omzet.
Misalnya bisnis memiliki website sendiri dan menghasilkan:
Rp50 juta omzet per bulan.
Biaya teknis website mungkin tetap berada pada kisaran tertentu, sedangkan biaya payment gateway dan marketing akan bergantung pada transaksi serta strategi yang digunakan.
Karena itu, struktur biayanya menjadi berbeda.
Marketplace vs Website: Apa yang Sebenarnya Dibayar?
Supaya lebih mudah dipahami, kita bandingkan dari sisi fungsi.
| Faktor | Marketplace | Website Sendiri |
|---|---|---|
| Traffic awal | Sudah tersedia | Perlu dibangun |
| Kompetitor di halaman yang sama | Ya | Tidak secara langsung |
| Fee platform | Ada | Tidak seperti marketplace |
| Iklan internal | Umumnya tersedia | Bisa menggunakan Google/Meta Ads |
| Branding | Lebih terbatas | Lebih bebas |
| Customer journey | Mengikuti platform | Bisa dirancang sendiri |
| Data customer | Terbatas sesuai platform | Lebih banyak dapat dikelola sendiri |
| Repeat order | Dipengaruhi platform | Bisa dibangun langsung |
| Kontrol channel | Terbatas | Lebih besar |
| Aset digital | Bergantung platform | Dimiliki bisnis |
Dari tabel ini terlihat bahwa pertanyaannya bukan sekadar:
“Mana yang lebih murah?”
Tetapi:
“Mana yang memberikan nilai paling sesuai dengan tahap bisnis saya?”
Website Punya Biaya, Tapi Marketplace Juga Punya Biaya
Ini poin yang penting supaya perbandingannya tetap fair.
Membangun website memang membutuhkan investasi.
Kamu mungkin perlu membayar:
- development,
- hosting,
- domain,
- maintenance,
- desain,
- integrasi payment gateway,
- dan marketing.
Tetapi marketplace juga bukan channel gratis.
Kamu membayar melalui berbagai bentuk:
fee + iklan + promo + biaya program + ketergantungan pada traffic platform.
Jadi jangan membandingkan:
“Website ada biaya, marketplace gratis.”
Perbandingan yang lebih tepat adalah:
“Berapa total cost untuk mendapatkan dan mempertahankan penjualan dari masing-masing channel?”
Sekarang Kita Buat Strategi Hybrid
Justru ini yang menurut saya lebih menarik.
Kamu tidak harus memilih:
Marketplace ATAU Website.
Kamu bisa menggunakan:
Marketplace + Website.
Misalnya omzet bisnis tetap:
Rp50 juta/bulan
Tetapi sekarang dibagi:
- Marketplace: Rp35 juta
- Website: Rp15 juta
Marketplace masih menjadi sumber traffic dan customer baru.
Website mulai menjadi channel milik sendiri.
Baca juga: Ketergantungan Marketplace: 7 Risiko yang Bisa Menghambat Pertumbuhan Bisnis
Apa yang Terjadi pada Biayanya?
Kita gunakan simulasi sederhana.
Marketplace
Omzet:
Rp35 juta
Dengan asumsi total biaya channel 18%:
Rp35 juta × 18% = Rp6,3 juta
Website
Omzet:
Rp15 juta
Misalnya biaya payment dan marketing efektif berada di 8%:
Rp15 juta × 8% = Rp1,2 juta
Total biaya channel:
Rp6,3 juta + Rp1,2 juta = Rp7,5 juta
Bandingkan dengan skenario sebelumnya:
Marketplace penuh = Rp9 juta
Secara simulasi, terdapat selisih:
Rp1,5 juta/bulan
atau:
Rp18 juta/tahun.
Sekali lagi, ini simulasi, bukan janji penghematan.
Biaya aktual sangat tergantung pada struktur bisnis, kategori produk, fee marketplace, biaya payment gateway, advertising, conversion rate, dan biaya operasional.
Tetapi simulasi ini memperlihatkan bagaimana diversifikasi channel bisa memengaruhi struktur biaya.
Tapi Ada Satu Hal yang Lebih Penting dari Penghematan
Misalnya ternyata website tidak langsung membuat bisnis menghemat Rp1,5 juta.
Apakah berarti website tidak berguna?
Belum tentu.
Karena website memberikan manfaat lain yang sulit dihitung hanya dari fee transaksi.
Misalnya:
1. Brand Lebih Mudah Dikontrol
Di marketplace, tampilan toko mengikuti struktur platform.
Di website, bisnis bisa menentukan sendiri:
- desain,
- tone komunikasi,
- storytelling,
- katalog,
- landing page,
- hingga customer journey.
2. Customer Lebih Dekat dengan Brand
Customer tidak hanya melihat:
produk → harga → checkout.
Mereka bisa melihat:
brand → cerita → produk → portfolio → review → FAQ → checkout.
Ini memberikan ruang lebih besar untuk membangun kepercayaan.
3. Bisa Membangun Database
Website dapat diintegrasikan dengan berbagai sistem untuk membantu bisnis mengelola data customer sesuai kebutuhan dan aturan privasi yang berlaku.
Misalnya:
- email,
- WhatsApp,
- CRM,
- riwayat transaksi,
- dan repeat order.
Data tersebut dapat membantu bisnis memahami customer dengan lebih baik.
4. Tidak Ada Toko Kompetitor Satu Scroll Jauh
Ini salah satu perbedaan paling terasa.
Di marketplace:
produk kamu → produk kompetitor → promo kompetitor → toko lain.
Di website:
customer sedang berada di:
dunia brand kamu.
Itu membuat perhatian customer lebih terfokus.
Baca juga: Customer Marketplace Tidak Loyal? Ini Alasan Banyak Brand Mulai Membangun Website Sendiri
Website Sendiri Juga Tidak Otomatis Mendatangkan Traffic
Nah, jangan sampai salah memahami bagian ini.
Punya website bukan berarti:
“Website jadi hari ini, besok langsung ramai.”
Tidak begitu.
Website membutuhkan strategi untuk mendatangkan pengunjung.
Misalnya:
- SEO,
- Google Ads,
- Meta Ads,
- social media,
- email marketing,
- WhatsApp,
- content marketing,
- dan referral.
Jadi kalau marketplace memberikan traffic yang sudah tersedia, website memberikan channel yang bisa kamu bangun sendiri.
Ini perbedaan yang sangat penting.
Marketplace Unggul di Mana?
Marketplace masih memiliki banyak keunggulan.
Terutama untuk bisnis yang:
- baru mulai,
- membutuhkan traffic cepat,
- ingin menguji produk,
- ingin mendapatkan customer baru,
- atau belum memiliki sistem digital sendiri.
Customer sudah familiar dengan platform.
Mereka sudah tahu cara checkout.
Dan marketplace memiliki ekosistem yang membantu seller menjangkau pembeli.
Jadi tidak masuk akal kalau semua bisnis harus meninggalkan marketplace.
Website Unggul di Mana?
Website mulai semakin menarik ketika bisnis sudah memiliki:
- produk yang terbukti laku,
- customer yang terus bertambah,
- repeat order,
- branding yang ingin dikembangkan,
- kebutuhan database customer,
- atau ketergantungan marketplace yang mulai terasa.
Pada tahap ini, website bukan hanya menjadi tempat transaksi.
Tetapi bisa menjadi:
rumah digital bisnis.
Kapan Bisnis Sebaiknya Mulai Memikirkan Website?
Tidak ada angka omzet yang berlaku untuk semua bisnis.
Tetapi beberapa tanda berikut bisa menjadi sinyal:
1. Omzet Marketplace Sudah Stabil
Misalnya bisnis sudah konsisten menghasilkan puluhan juta setiap bulan.
2. Customer Mulai Banyak
Semakin banyak customer, semakin penting membangun hubungan langsung dengan mereka.
3. Repeat Order Tinggi
Jika produk memiliki potensi pembelian berulang, channel sendiri bisa sangat membantu.
Baca juga: Repeat Order Website: 7 Alasan Customer Lebih Mudah Kembali Membeli
4. Fee Mulai Terasa Besar
Ketika total biaya marketplace mulai menggerus margin secara signifikan, sudah waktunya menghitung alternatif.
5. Brand Ingin Naik Level
Jika bisnis ingin terlihat lebih profesional dan membangun positioning jangka panjang, website memberikan ruang yang lebih luas.
Jangan Hanya Hitung Biaya Website
Kalau ingin membandingkan marketplace dengan website, jangan berhenti pada:
“Website saya harus bayar berapa?”
Hitung juga:
“Berapa biaya marketplace saya selama satu tahun?”
Misalnya biaya channel marketplace rata-rata:
Rp7 juta/bulan.
Setahun:
Rp84 juta.
Angka tersebut tentu bukan berarti Rp84 juta bisa langsung “diganti” dengan biaya website.
Tetapi angka itu penting untuk menjadi dasar ketika bisnis membuat keputusan investasi digital.
Karena sekarang kamu tidak lagi membandingkan:
harga website vs marketplace.
Kamu sedang membandingkan:
biaya mendapatkan penjualan melalui platform vs biaya membangun channel sendiri.
Jangan Terjebak pada Perbandingan “Mana yang Lebih Murah”
Marketplace dan website sebenarnya bukan dua hal yang harus saling menggantikan.
Keduanya bisa memiliki fungsi berbeda.
Marketplace:
Mendatangkan traffic dan customer baru.
Website:
Membangun brand, customer relationship, data, dan channel penjualan sendiri.
Strategi yang sehat bisa saja menggunakan keduanya.
Marketplace tetap berjalan.
Website mulai dibangun.
Traffic mulai diarahkan secara bertahap.
Customer mulai mengenal brand.
Dan bisnis perlahan memiliki channel yang lebih beragam.
Coba Hitung Kondisi Bisnismu Sendiri
Kalau omzet marketplace kamu saat ini sekitar:
Rp10 juta
mungkin fee yang dibayar masih terasa kecil.
Tapi kalau sudah:
Rp50 juta → Rp100 juta → Rp500 juta
persentase yang sama bisa menghasilkan nominal yang sangat berbeda.
Karena itu, semakin besar bisnis, semakin penting memahami:
cost per transaction, margin, CAC, advertising cost, dan net profit.
Bukan hanya omzet.
Kalau kamu ingin mendapatkan gambaran awal mengenai berapa biaya marketplace yang keluar dibandingkan potensi membangun channel sendiri, kamu bisa mencoba Kalkulator Efisiensi Biaya Marketplace Jangkar.
Kesimpulan
Jadi, marketplace vs website bukan pertarungan tentang siapa yang paling murah.
Marketplace memberikan akses ke traffic dan customer yang sudah tersedia.
Website membutuhkan investasi dan strategi untuk membangun traffic sendiri.
Namun website memberikan kontrol yang lebih besar terhadap:
- branding,
- customer journey,
- database,
- repeat order,
- dan channel penjualan.
Untuk bisnis dengan omzet Rp50 juta per bulan, perbedaan beberapa persen dalam biaya channel saja sudah bisa menjadi jutaan rupiah setiap bulan.
Karena itu, daripada bertanya:
“Haruskah saya meninggalkan marketplace?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Berapa besar bisnis saya sebaiknya bergantung pada marketplace?”
Karena marketplace boleh menjadi salah satu channel penjualan.
Tetapi jangan sampai menjadi satu-satunya tempat bisnis kamu hidup.
Mulai Hitung Strategi Channel Bisnismu
Setiap bisnis punya struktur biaya yang berbeda. Jadi sebelum memutuskan membangun website, hitung dulu kondisi bisnis kamu.
Coba Kalkulator Efisiensi Biaya Marketplace untuk melihat gambaran awal biaya yang selama ini keluar.
Kalau kamu ingin melihat bagaimana website ecommerce bisa menjadi channel penjualan tambahan, kamu juga bisa pelajari solusi Jangkar Digital.
Atau kalau sudah punya gambaran dan ingin membahas kondisi bisnis secara langsung, konsultasi gratis dengan tim Jangkar melalui WhatsApp.
Tidak harus memilih marketplace atau website.
Yang penting, bisnis kamu mulai punya lebih dari satu jalur untuk tumbuh.
Baca juga: Potongan Marketplace Bisa Sampai 20–30%, Seller Masih Untung?



