Marketplace telah menjadi salah satu channel penjualan terbesar bagi bisnis online di Indonesia. Dengan jutaan pengguna aktif setiap hari, platform seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, dan TikTok Shop membantu seller menjangkau pelanggan dengan lebih cepat tanpa harus membangun traffic sendiri dari nol.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak seller mulai mengeluhkan satu hal yang sama: potongan marketplace yang terus meningkat.
Mulai dari biaya admin, biaya layanan, program gratis ongkir, cashback, iklan marketplace, hingga berbagai campaign promosi membuat total biaya yang harus ditanggung seller menjadi semakin besar.
Akibatnya, banyak bisnis mengalami kondisi yang cukup unik. Order terlihat ramai, omzet terus bertambah, tetapi profit bersih yang diterima justru tidak meningkat secara signifikan.
Lalu sebenarnya berapa besar potongan marketplace yang dibayarkan seller saat ini? Dan apakah bisnis masih bisa tetap untung ketika total potongan mencapai 20% hingga 30%?
Berapa Besar Potongan Marketplace Saat Ini?
Banyak seller mengira biaya marketplace hanya berupa biaya admin.
Padahal dalam praktiknya terdapat berbagai komponen biaya yang dapat mengurangi margin keuntungan.
Berikut gambaran umum total potongan yang sering terjadi di marketplace Indonesia.
| Marketplace | Estimasi Total Potongan |
|---|---|
| Shopee | 15% – 25% |
| Tokopedia | 12% – 20% |
| Lazada | 8% – 15% |
| TikTok Shop | 15% – 30% |
Besarnya potongan akan berbeda tergantung kategori produk, program promosi yang diikuti, serta strategi pemasaran yang digunakan seller.
Semakin aktif mengikuti promo marketplace, biasanya semakin besar pula biaya yang harus dibayarkan.
Komponen Biaya yang Sering Tidak Disadari Seller
Banyak seller hanya memperhatikan biaya admin yang terlihat di dashboard marketplace.
Padahal terdapat berbagai biaya lain yang secara perlahan menggerus margin keuntungan.
Biaya Admin Marketplace
Biaya admin merupakan komponen dasar yang dikenakan marketplace untuk setiap transaksi yang berhasil.
Besarnya berbeda-beda tergantung platform dan kategori produk.
Meskipun terlihat kecil, biaya ini akan sangat terasa ketika omzet bisnis mulai meningkat.
Biaya Program Gratis Ongkir
Salah satu strategi utama marketplace untuk menarik pembeli adalah program gratis ongkir.
Namun pada kenyataannya, biaya program ini tidak sepenuhnya ditanggung marketplace.
Sebagian biaya sering kali dibebankan kembali kepada seller melalui potongan tambahan.
Baca juga: Gratis Ongkir di Marketplace Sebenarnya Tidak Gratis untuk Seller
Biaya Cashback dan Voucher
Program cashback memang efektif meningkatkan konversi penjualan.
Namun setiap program biasanya memiliki konsekuensi biaya tambahan yang perlu diperhitungkan seller.
Jika tidak dihitung dengan benar, margin keuntungan bisa semakin tipis.
Biaya Iklan Marketplace
Persaingan yang semakin tinggi membuat banyak seller harus menggunakan fitur iklan agar produk tetap muncul di hasil pencarian.
Akibatnya muncul biaya baru yang sering kali menjadi salah satu pengeluaran terbesar setiap bulan.
Semakin kompetitif kategori produk, semakin besar biaya iklan yang dibutuhkan.
Risiko Retur dan Komplain
Biaya yang sering terlupakan adalah risiko retur dan komplain pelanggan.
Meskipun tidak selalu terjadi, faktor ini tetap perlu diperhitungkan sebagai bagian dari biaya operasional bisnis online.
Kenapa Omzet Besar Tidak Selalu Berarti Profit Besar?
Banyak pelaku bisnis terlalu fokus mengejar omzet.
Padahal omzet hanyalah total nilai penjualan.
Yang menentukan kesehatan bisnis sebenarnya adalah profit bersih.
Misalnya:
- Omzet: Rp100 juta
- Potongan marketplace: 20%
- Biaya operasional: 20%
- Harga pokok produk: 40%
Maka keuntungan yang tersisa jauh lebih kecil dibanding yang terlihat dari angka omzet.
Karena itu banyak seller mulai menyadari bahwa:
- order ramai,
- toko terlihat sibuk,
- tetapi keuntungan tidak bertambah secara signifikan.
Fokus pada profit jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar angka omzet yang besar.
Simulasi Potongan Marketplace Berdasarkan Omzet
Agar lebih mudah dipahami, berikut simulasi sederhana dampak potongan marketplace terhadap omzet bisnis.
| Omzet Bulanan | Potongan 20% | Potongan 25% |
| Rp10.000.000 | Rp2.000.000 | Rp2.500.000 |
| Rp50.000.000 | Rp10.000.000 | Rp12.500.000 |
| Rp100.000.000 | Rp20.000.000 | Rp25.000.000 |
Jika diakumulasikan selama satu tahun, total biaya yang dibayarkan dapat mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Inilah alasan mengapa semakin banyak brand mulai mencari cara untuk membangun channel penjualan tambahan di luar marketplace.
Baca juga: Biaya Komisi Marketplace Indonesia 2026: Shopee, Tokopedia, Lazada & TikTok Shop [Data Lengkap]
Apa Dampaknya Jika Margin Terus Tergerus?
Margin yang semakin tipis dapat memengaruhi banyak aspek bisnis.
Sulit Mengembangkan Produk Baru
Profit yang terbatas membuat ruang untuk inovasi menjadi semakin kecil.
Budget Marketing Menjadi Terbatas
Bisnis akan kesulitan melakukan ekspansi jika sebagian besar keuntungan habis untuk biaya operasional.
Ketergantungan pada Marketplace Semakin Tinggi
Ketika seluruh penjualan hanya bergantung pada satu platform, perubahan kebijakan dapat memberikan dampak yang besar terhadap bisnis.
Karena itu penting untuk mulai membangun sumber penjualan yang lebih beragam.
Marketplace Tetap Penting, Tapi Jangan Jadi Satu-Satunya Channel
Marketplace tetap memiliki peran penting dalam strategi bisnis modern.
Platform ini sangat efektif untuk:
- mendapatkan pelanggan baru,
- menguji produk,
- meningkatkan visibilitas brand,
- dan mempercepat penjualan.
Namun banyak brand mulai menyadari bahwa marketplace sebaiknya menjadi salah satu channel penjualan, bukan satu-satunya channel.
Strategi yang semakin banyak digunakan adalah menggabungkan marketplace dengan website sendiri.
Bagaimana Website Membantu Menjaga Margin Profit?
Website memberikan kontrol yang lebih besar terhadap bisnis.
Beberapa keuntungan yang sering dirasakan brand setelah memiliki website sendiri:
Data Pelanggan Menjadi Milik Bisnis
Brand dapat membangun database pelanggan untuk kebutuhan pemasaran jangka panjang.
Repeat Order Lebih Mudah Dikelola
Website memungkinkan bisnis menjalankan strategi email marketing, WhatsApp marketing, dan program loyalitas pelanggan.
Branding Lebih Kuat
Tampilan website dapat disesuaikan dengan identitas brand tanpa terbatas aturan marketplace.
Margin Lebih Terkontrol
Tidak ada biaya komisi marketplace pada setiap transaksi yang terjadi melalui website.
Karena itu banyak bisnis mulai membangun website bukan untuk menggantikan marketplace, tetapi sebagai aset digital jangka panjang.
Kesimpulan
Potongan marketplace yang mencapai 20% hingga 30% bukan lagi hal yang asing bagi banyak seller online.
Marketplace tetap menjadi channel yang sangat efektif untuk mendapatkan pelanggan baru. Namun bisnis juga perlu memahami bagaimana berbagai biaya tersebut memengaruhi margin keuntungan dalam jangka panjang.
Semakin besar omzet bisnis, semakin penting untuk menghitung profit bersih dan mulai membangun aset digital yang dapat dikendalikan sendiri.
Strategi yang digunakan banyak brand saat ini bukan meninggalkan marketplace, melainkan menggabungkan marketplace dan website agar pertumbuhan bisnis menjadi lebih stabil.
Mulai Bangun Website Ecommerce untuk Bisnis Anda
Banyak bisnis mulai membangun website sendiri untuk mengurangi ketergantungan pada marketplace, memperkuat branding, dan memiliki aset digital jangka panjang.
✔️ Website & aset digital menjadi milik penuh klien setelah kontrak selesai
✔️ Mendukung integrasi payment gateway dan logistik
✔️ CMS mudah dikelola tanpa perlu memahami coding
Pelajari solusi ecommerce untuk bisnis Anda melalui halaman layanan Jangkar.
Baca juga: Cara Lepas dari Ketergantungan Marketplace: Panduan Lengkap untuk Brand Indonesia



![Biaya Komisi Marketplace Indonesia 2026: Shopee, Tokopedia, Lazada & TikTok Shop [Data Lengkap]](https://jangkar.io/wp-content/uploads/2026/06/JTI-1.webp)