Instagram ada.
TikTok ada.
Google ada.
AI sekarang juga semakin sering digunakan untuk mencari informasi.
Bahkan seseorang bisa saja menemukan sebuah brand bukan dari website, tetapi dari video TikTok, Instagram Reels, Google Maps, atau rekomendasi dari AI.
Jadi wajar kalau muncul pertanyaan:
“Kalau sekarang orang lebih sering main social media dan pakai AI, website masih penting nggak?”
Jawabannya ternyata masih cukup menarik.
Salah satu data terbaru dari Canadian Federation of Independent Business (CFIB) menunjukkan bahwa website justru masih menjadi channel digital yang paling banyak digunakan oleh small business dalam survei mereka.
Dalam survei terhadap 2.478 pemilik bisnis independen di Kanada, sebanyak:
- 78% menggunakan company website
- 59% menggunakan Facebook
- 52% menggunakan Google Business Profile/Maps
- 41% menggunakan Instagram
Survei tersebut dilakukan pada September 2025 dan hasilnya dipublikasikan CFIB pada Desember 2025.
Angkanya menarik.
Karena kalau kita melihat perkembangan digital beberapa tahun terakhir, social media memang semakin besar.
Tapi website ternyata belum kehilangan tempatnya.
Justru pertanyaannya sekarang mungkin bukan lagi:
“Bisnis perlu website atau tidak?”
Melainkan:
“Website bisnis kamu sebenarnya bekerja untuk apa?”
Website Bukan Berarti Social Media Tidak Penting
Sebelum terlalu jauh, kita perlu meluruskan satu hal.
Data 78% tadi bukan berarti website lebih penting daripada Instagram, Facebook, atau Google untuk setiap bisnis.
Setiap channel memiliki fungsi yang berbeda.
Social media bisa membantu brand mendapatkan perhatian.
Google membantu orang menemukan bisnis ketika mereka sedang mencari.
Google Business Profile/Maps sangat relevan untuk visibility lokal.
Sedangkan website dapat menjadi tempat bisnis mengatur informasi, positioning, layanan, portfolio, dan jalur customer untuk mengambil tindakan.
Jadi daripada melihat:
Website vs Social Media
lebih masuk akal melihat:
Website + Social Media + Google
sebagai bagian dari digital presence yang saling melengkapi.
Bayangkan customer journey sederhana seperti ini:
Instagram → Google → Website → Contact
Atau:
TikTok → Search Brand → Website → WhatsApp
Atau:
Google Maps → Website → Lihat Service → Konsultasi
Customer tidak selalu peduli mereka menemukan brand kamu dari mana.
Yang penting ketika mereka tertarik, mereka bisa menemukan informasi yang cukup untuk melanjutkan perjalanan.
Menariknya, Website Juga Dinilai Sebagai Channel yang Paling Berguna
Ada bagian lain dari riset CFIB yang justru lebih menarik.
Ketika pemilik bisnis ditanya mengenai channel digital mana yang paling berguna bagi bisnis mereka, website muncul sebagai channel yang paling banyak dianggap berguna, sementara Facebook dan Google Maps berada setelahnya. CFIB juga menyebut website sebagai “digital anchor point”—tempat bisnis memiliki kontrol lebih besar atas konten, branding, dan customer experience.
Ini memberikan perspektif berbeda.
Website bukan hanya:
“Kita harus punya website karena bisnis profesional harus punya website.”
Tetapi bisa menjadi:
“Ini adalah tempat ketika customer ingin tahu lebih jauh tentang bisnis kita.”
Dan itu perbedaan yang cukup besar.
Karena social media pada dasarnya berjalan dalam ekosistem platform.
Website memberikan ruang yang jauh lebih besar untuk bisnis menentukan:
- apa yang ingin ditampilkan
- bagaimana informasi disusun
- bagaimana brand diposisikan
- bagaimana layanan dijelaskan
- portfolio apa yang ditonjolkan
- bagaimana customer menghubungi bisnis
- dan journey apa yang ingin diarahkan
Social Media Menarik Perhatian, Website Melanjutkan Journey
Coba kita ambil contoh sederhana.
Kamu melihat sebuah video Instagram dari sebuah brand.
Kontennya menarik.
Kamu penasaran.
Lalu kamu klik profile mereka.
Di sana ada link website.
Kamu buka.
Ternyata kamu menemukan:
Tentang Brand
Services
Portfolio
Testimonials
FAQ
Contact
Sekarang kamu memiliki jauh lebih banyak informasi dibandingkan ketika pertama kali melihat kontennya.
Inilah salah satu fungsi penting website.
Social media bisa membuat orang berhenti scrolling.
Website bisa membantu mereka memahami lebih jauh.
Dan ketika customer mulai mempertimbangkan apakah mereka mau membeli atau menghubungi sebuah bisnis, informasi tambahan seperti ini bisa menjadi bagian dari proses tersebut.
Jadi sebenarnya:
Social media = attention
Google = discovery
Website = information & journey
Contact/WhatsApp = action
Tentu tidak semua bisnis harus memiliki journey yang persis sama.
Tetapi cara berpikir seperti ini jauh lebih berguna daripada sekadar bertanya:
“Harus punya Instagram atau website?”
“Tapi Sekarang Ada TikTok dan AI”
Betul.
Dan justru karena itulah website perlu dilihat dengan perspektif yang sedikit berbeda.
Dulu orang mungkin berpikir:
Website = tempat orang mencari bisnis.
Sekarang perjalanan pencarian jauh lebih beragam.
Orang bisa:
- melihat video TikTok
- menemukan brand di Instagram
- mencari nama brand di Google
- melihat Google Maps
- membaca review
- bertanya kepada AI
- kemudian membuka website
Artinya website tidak harus selalu menjadi tempat pertama customer menemukan bisnis.
Website bisa menjadi tempat yang mereka kunjungi setelah menemukan bisnis.
Dan ini penting.
Karena semakin banyak channel discovery yang muncul, semakin penting juga bisnis memiliki destination yang jelas ketika seseorang ingin mencari tahu lebih jauh.
AI Justru Membuat Informasi Bisnis Semakin Penting
Kemunculan AI juga mengubah cara orang mencari informasi.
Sekarang seseorang bisa bertanya kepada AI:
“Rekomendasikan jasa pembuatan website ecommerce di Indonesia.”
Atau:
“Apa saja yang harus diperhatikan ketika memilih jasa digital marketing?”
Atau bahkan:
“Bandingkan beberapa agency berdasarkan layanan dan portfolio mereka.”
AI kemudian membutuhkan informasi untuk menghasilkan jawaban.
Ini bukan berarti setiap website otomatis akan muncul dalam jawaban AI.
Jangan sampai kita membuat klaim seperti itu.
Tetapi satu hal yang semakin penting adalah:
bisnis perlu memiliki informasi digital yang jelas, konsisten, dan mudah dipahami.
Siapa kamu?
Apa yang kamu tawarkan?
Untuk siapa?
Apa keunggulanmu?
Apa portfolio kamu?
Bagaimana cara menghubungi?
Informasi tersebut idealnya tidak hanya ada di kepala pemilik bisnis.
Ia perlu tersedia secara digital.
Dan website bisa menjadi salah satu tempat utama untuk menyusunnya.
Baca juga: Website untuk Bisnis: Kenapa Instagram dan Marketplace Saja Sudah Tidak Cukup?
Website yang Ada Belum Tentu Website yang Bekerja
Nah, ini bagian yang sering terlewat.
Karena memiliki website ≠ website tersebut bekerja untuk bisnis.
Ada bisnis yang sudah memiliki website selama bertahun-tahun.
Tetapi ketika dibuka:
Homepage hanya berisi:
“Welcome to Our Website.”
Lalu:
About Us.
Services.
Contact.
Selesai.
Tidak ada penjelasan yang benar-benar menjawab kebutuhan customer.
Tidak ada portfolio.
Tidak ada bukti.
Tidak ada CTA yang jelas.
Tidak ada struktur informasi yang membantu orang mengambil keputusan.
Secara teknis:
website-nya ada.
Tetapi secara bisnis:
belum tentu bekerja.
Bahkan data CFIB juga menunjukkan bahwa website pada banyak small business masih lebih banyak berfungsi sebagai sumber informasi dibandingkan channel penjualan langsung.
Jadi memiliki website memang langkah awal.
Tetapi bukan garis finish.
Website yang Bagus Bukan Sekadar Terlihat Profesional
Kesalahan lainnya adalah menganggap website yang bagus berarti:
“Design-nya keren.”
Tentu visual penting.
Website harus terlihat profesional dan sesuai dengan brand.
Tetapi customer tidak datang hanya untuk melihat desain.
Mereka datang karena ingin mendapatkan sesuatu.
Misalnya:
“Saya ingin tahu layanan apa yang mereka punya.”
“Saya ingin tahu apakah mereka pernah mengerjakan project seperti saya.”
“Saya ingin tahu berapa lama prosesnya.”
“Saya ingin tahu apakah mereka bisa membantu bisnis saya.”
“Saya ingin menghubungi mereka.”
Maka website harus membantu menjawab pertanyaan tersebut.
Itulah kenapa website yang bekerja untuk bisnis biasanya memiliki struktur yang lebih strategis.
Contohnya:
Hero
Menjelaskan secara cepat:
Siapa kamu + apa yang kamu tawarkan + untuk siapa.
Services
Menjelaskan layanan secara sederhana.
Benefit
Menjawab:
“Kenapa saya harus memilih layanan ini?”
Portfolio / Case Study
Memberikan bukti.
Testimonial
Membangun social proof.
FAQ
Menjawab keraguan umum.
CTA
Memberikan langkah berikutnya.
Dengan begitu, website bukan hanya menjadi katalog digital.
Ia menjadi bagian dari proses customer mengambil keputusan.
Website Bisa Menjadi “Rumah” dari Digital Presence
Coba bayangkan digital presence sebagai sebuah ekosistem.
Instagram adalah tempat brand berinteraksi dan mendapatkan perhatian.
TikTok menjadi channel discovery dan content.
Google membantu customer menemukan informasi.
Google Maps membantu visibility lokal.
Marketplace bisa menjadi channel transaksi.
Tetapi website bisa menjadi tempat yang mengumpulkan informasi tersebut dalam satu ecosystem.
Misalnya:
Social Media
↓
Customer tertarik
↓
Website
↓
Service / Product
↓
Portfolio / Review
↓
CTA
↓
WhatsApp / Purchase
Dengan model seperti ini, website bukan menggantikan channel lainnya.
Justru website membantu menghubungkan channel-channel tersebut.
Baca juga: Boost Posting ≠ Strategi Ads: Kenapa Klik “Promosikan” Belum Tentu Menghasilkan Penjualan?
Jangan Buat Website Hanya Karena “Semua Bisnis Punya”
Ini juga penting.
Data 78% dari CFIB memang menarik.
Tetapi angka tersebut tidak boleh diterjemahkan menjadi:
“Kalau belum punya website berarti bisnisnya ketinggalan.”
Tidak sesederhana itu.
Kebutuhan digital setiap bisnis berbeda.
Ada bisnis yang sangat bergantung pada social media.
Ada bisnis yang sangat mengandalkan marketplace.
Ada bisnis lokal yang sangat terbantu oleh Google Maps.
Ada bisnis B2B yang membutuhkan website sebagai company profile dan sumber informasi.
Ada ecommerce yang membutuhkan website sebagai channel transaksi.
Jadi pertanyaan yang lebih sehat adalah:
“Customer saya membutuhkan informasi apa, dan di mana mereka biasanya mencarinya?”
Setelah itu baru menentukan peran masing-masing channel.
Kalau Sudah Punya Website, Coba Cek 7 Hal Ini
Daripada bertanya apakah website masih penting, mungkin sekarang waktunya mengecek apakah website kamu sudah bekerja.
1. Apakah orang langsung tahu bisnis kamu?
Dalam beberapa detik pertama, orang harus bisa memahami:
Kamu siapa dan menawarkan apa?
2. Apakah layanan atau produk mudah ditemukan?
Jangan membuat customer harus membuka lima halaman hanya untuk mengetahui apa yang kamu jual.
3. Apakah website menjawab pertanyaan customer?
Jangan hanya berbicara tentang perusahaan.
Bicarakan juga masalah yang ingin diselesaikan customer.
4. Apakah ada bukti?
Portfolio, case study, testimonial, client list, atau bentuk social proof lainnya bisa membantu customer memahami pengalaman bisnis.
5. Apakah website mobile-friendly?
Customer tidak selalu membuka website dari laptop.
Website harus tetap mudah digunakan di perangkat mobile.
6. Apakah ada CTA yang jelas?
Setelah membaca halaman, customer harus tahu:
“Selanjutnya saya harus melakukan apa?”
7. Apakah website masih di-update?
Website yang terakhir diperbarui beberapa tahun lalu bisa memberikan sinyal yang berbeda kepada customer.
Informasi service, portfolio, kontak, maupun konten sebaiknya tetap relevan.
Jadi, Website Masih Penting?
Kalau pertanyaannya:
“Apakah semua bisnis wajib punya website?”
Jawabannya tidak bisa disamaratakan.
Tetapi kalau pertanyaannya:
“Apakah website masih memiliki peran dalam digital presence bisnis di era social media, TikTok, dan AI?”
Data CFIB memberikan gambaran yang cukup jelas.
Dalam survei September 2025 tersebut, 78% small business yang disurvei menggunakan company website, dibandingkan 59% yang menggunakan Facebook, 52% Google Business Profile/Maps, dan 41% Instagram. Website juga menjadi channel yang paling banyak disebut sebagai channel digital yang paling berguna bagi bisnis dalam survei tersebut.
Sekali lagi, ini adalah data small business di Kanada, bukan angka penggunaan website bisnis di Indonesia.
Tetapi datanya menunjukkan satu hal yang menarik:
Munculnya channel baru tidak otomatis membuat website menjadi tidak relevan.
Justru fungsi website bisa berubah.
Dari yang awalnya hanya dianggap sebagai:
“Alamat bisnis di internet.”
menjadi:
“Tempat customer memahami bisnis dan melanjutkan journey mereka.”
Pertanyaannya Sekarang Bukan “Punya Website atau Tidak”
Mungkin beberapa tahun lalu pertanyaannya:
“Bisnis perlu website nggak?”
Sekarang pertanyaannya bisa dibuat lebih relevan:
“Kalau customer menemukan bisnis saya hari ini, apakah website saya membantu mereka mengambil keputusan?”
Karena website kamu mungkin sudah ada.
Tapi apakah:
Brand-nya jelas?
Service-nya mudah dipahami?
Portfolio-nya meyakinkan?
Informasinya lengkap?
Mobile-friendly?
Mudah ditemukan di Google?
CTA-nya jelas?
Customer tahu harus melakukan apa setelah membuka website?
Kalau jawabannya belum, mungkin masalahnya bukan perlu website atau tidak.
Masalahnya adalah:
website kamu belum dimaksimalkan sebagai bagian dari strategi digital.
Website Bukan Pengganti Social Media. Keduanya Punya Peran Berbeda.
Jadi tidak perlu memilih:
Website atau Instagram?
Website atau TikTok?
Website atau Google?
Justru lebih menarik kalau semuanya memiliki fungsi yang jelas.
Social media: menarik perhatian.
TikTok: membangun discovery dan engagement.
Google: membantu orang menemukan bisnis.
Google Maps: membantu visibility lokal.
Website: memberikan informasi yang lebih lengkap dan mengarahkan customer ke langkah berikutnya.
WhatsApp / Contact / Checkout: menjadi tempat customer melakukan tindakan.
Karena pada akhirnya, digital presence bukan tentang berapa banyak platform yang bisnis kamu punya.
Tetapi tentang:
Seberapa mudah customer menemukan, memahami, mempercayai, dan akhirnya berinteraksi dengan bisnis kamu.
Dan website masih bisa memainkan peran penting di dalam perjalanan tersebut.
Website Kamu Sudah Ada. Sekarang, Pastikan Website-nya Bekerja.
Punya website saja belum cukup.
Website seharusnya bukan hanya terlihat profesional, tetapi juga membantu bisnis menjelaskan value, menunjukkan kredibilitas, memberikan informasi yang dibutuhkan customer, dan mengarahkan mereka ke tindakan berikutnya.
Di Jangkar Digital, website dirancang bukan sekadar sebagai halaman online, tetapi sebagai bagian dari ekosistem digital bisnis—mulai dari positioning, struktur informasi, hingga customer journey.
Looking to upgrade your website?
Pelajari layanan Website E-Commerce Jangkar Digital
Atau kalau kamu ingin mulai dari diskusi kebutuhan bisnis terlebih dahulu, konsultasikan bersama tim Jangkar melalui WhatsApp.
Baca juga: Kapan Bisnis Butuh Website Ecommerce? Cek dari Omzet & Biaya



