Strategi dulu, baru eksekusi.
Kalimat ini terdengar sederhana. Tapi dalam praktiknya, masih banyak bisnis yang justru melakukan sebaliknya.
Baru mau mulai digital marketing, langsung bikin konten.
Punya sedikit budget, langsung pasang Ads.
Instagram terlihat sepi, langsung tambah frekuensi posting.
Website belum menghasilkan leads, langsung tambah traffic.
Semuanya bergerak cepat. Tapi satu pertanyaan penting justru belum dijawab:
“Sebenarnya kita sedang ingin mencapai apa?”
Di sinilah strategi punya peran penting.
Konten, Ads, landing page, website, sampai campaign bukanlah strategi itu sendiri. Semuanya adalah taktik dan alat untuk menjalankan strategi.
Kalau arah besarnya belum jelas, eksekusi yang semakin banyak belum tentu membuat bisnis semakin dekat dengan hasil yang diinginkan.
Bahkan, bisa saja bisnis hanya menjadi semakin sibuk.
Strategi dan Eksekusi Itu Bukan Hal yang Sama
Salah satu kesalahan yang cukup sering terjadi dalam digital marketing adalah menganggap strategi dan eksekusi sebagai sesuatu yang sama.
Padahal keduanya memiliki fungsi berbeda.
Strategi menjawab “kenapa” dan “ke mana”.
Sementara eksekusi menjawab “bagaimana caranya”.
Contohnya sederhana.
Sebuah bisnis ingin mendapatkan lebih banyak customer melalui Instagram.
Eksekusinya bisa bermacam-macam:
- membuat Reels setiap hari,
- menggunakan influencer,
- menjalankan Instagram Ads,
- membuat carousel edukasi,
- mengadakan giveaway,
- membuat promo,
- mengarahkan traffic ke WhatsApp.
Semua itu bisa dilakukan.
Tapi sebelum memilih salah satunya, bisnis perlu mengetahui:
Customer yang ingin didapatkan itu siapa?
Apa masalah mereka?
Kenapa mereka harus memilih produk kita?
Apa pesan yang ingin disampaikan?
Di tahap mana customer sedang berada?
Channel mana yang paling efektif untuk menjangkau mereka?
Nah, pertanyaan-pertanyaan tersebut masuk ke ranah strategi.
Apa yang Terjadi Kalau Langsung Lompat ke Eksekusi?
Bayangkan sebuah bisnis baru mulai menjalankan digital marketing.
Minggu pertama membuat konten edukasi.
Minggu kedua membuat konten promo.
Minggu ketiga mencoba Reels.
Lalu melihat kompetitor menjalankan Ads dan akhirnya ikut pasang Ads.
Setelah dua minggu, leads belum banyak.
Kemudian muncul kesimpulan:
“Kayaknya Ads-nya nggak efektif.”
Budget ditambah.
Creative diganti.
Target audience diperluas.
Namun hasilnya masih tidak konsisten.
Masalahnya mungkin bukan karena Ads-nya jelek.
Bisa jadi sejak awal belum ada strategi yang menjadi dasar semua aktivitas tersebut.
Akibatnya, setiap aktivitas berjalan sendiri-sendiri.
Konten punya pesan sendiri.
Ads punya pesan berbeda.
Landing page menjelaskan hal lain.
Sales menawarkan sesuatu yang berbeda lagi.
Customer akhirnya menerima banyak pesan, tetapi tidak mendapatkan alasan yang cukup jelas untuk mengambil tindakan.
1. Tanpa Strategi, Konten Mudah Berubah Jadi Sekadar “Ramai”
Salah satu jebakan paling umum adalah mengejar konten yang ramai.
Views naik.
Likes bertambah.
Followers tumbuh.
Engagement terlihat bagus.
Tapi setelah dilihat lebih dalam:
Apakah ada dampaknya terhadap bisnis?
Belum tentu.
Konten yang bagus bukan hanya konten yang mendapatkan banyak engagement.
Konten harus memiliki fungsi dalam perjalanan customer.
Misalnya, bisnis jasa interior ingin mendapatkan project baru.
Konten yang dibuat bisa dibagi berdasarkan tujuan:
Awareness
Membantu target market mengenal brand.
Contohnya:
- hasil project,
- before-after,
- video proses pengerjaan,
- tips desain.
Consideration
Membantu calon customer memahami keahlian dan value bisnis.
Contohnya:
- kesalahan saat memilih kontraktor,
- estimasi proses renovasi,
- perbandingan material,
- studi kasus project.
Conversion
Mendorong orang yang sudah tertarik untuk mengambil tindakan.
Contohnya:
- konsultasi,
- request quotation,
- survey lokasi,
- booking meeting.
Dengan struktur seperti ini, konten tidak hanya dibuat karena “minggu ini harus posting”.
Ada alasan di balik setiap konten.
2. Tanpa Strategi, Ads Bisa Jadi Sekadar Tombol “On”
Hal yang sama berlaku untuk Ads.
Menjalankan iklan sebenarnya tidak sulit.
Yang jauh lebih sulit adalah memastikan uang yang dikeluarkan untuk iklan bekerja menuju tujuan yang benar.
Misalnya sebuah bisnis menghabiskan Rp5 juta untuk Ads.
Setelah campaign berjalan, bisnis melihat:
- impressions,
- reach,
- clicks,
- followers,
- messages.
Angkanya terlihat bagus.
Tapi ketika ditanya:
“Berapa leads berkualitas yang masuk?”
Jawabannya tidak jelas.
Lebih jauh lagi:
“Dari leads tersebut, berapa yang menjadi customer?”
Tidak ada tracking.
Di titik ini, bisnis sebenarnya tidak kekurangan budget.
Bisnis kekurangan arah dan sistem pengukuran.
Strategi membantu menentukan sejak awal:
“Kita menjalankan Ads ini untuk apa?”
Apakah untuk awareness?
Mendapatkan leads?
Mendorong WhatsApp?
Meningkatkan penjualan?
Mengumpulkan database?
Atau melakukan retargeting kepada orang yang sebelumnya sudah berinteraksi dengan brand?
Tujuan yang berbeda membutuhkan pendekatan yang berbeda pula.
3. Strategi Menentukan Siapa yang Sebenarnya Ingin Kita Jangkau
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah membuat target market terlalu luas.
“Target kita semua orang.”
Kelihatannya menarik karena berarti semakin banyak orang yang bisa membeli.
Tapi dalam marketing, target yang terlalu luas justru bisa membuat pesan menjadi terlalu umum.
Bandingkan dua pesan berikut.
“Kami menyediakan jasa interior berkualitas untuk kebutuhan Anda.”
dengan:
“Punya villa di Bali dan ingin interior yang terlihat premium tanpa harus mengurus proses desain sampai pengerjaan sendiri?”
Pesan kedua jauh lebih spesifik.
Bukan berarti semua orang akan tertarik.
Justru itu poinnya.
Marketing tidak selalu bertujuan membuat semua orang tertarik.
Marketing bertujuan membuat orang yang tepat merasa bahwa pesan tersebut memang ditujukan kepada mereka.
Karena itu, strategi perlu menentukan:
- siapa target customer,
- kebutuhan mereka,
- masalah yang mereka hadapi,
- kemampuan atau willingness to pay,
- alasan mereka membeli,
- keberatan sebelum membeli,
- serta channel tempat mereka paling mudah dijangkau.
Baca juga: 3 Hal yang Bisa Kamu Lakukan Biar Marketing Nggak Cuma Ramai, tapi Juga Menghasilkan
4. Strategi Menentukan Pesan yang Harus Dibawa
Setelah tahu siapa target market-nya, pertanyaan berikutnya adalah:
“Apa yang harus kita komunikasikan kepada mereka?”
Ini sering kali menjadi pembeda antara marketing yang terasa relevan dan marketing yang terasa generik.
Misalnya sebuah bisnis menjual jasa digital marketing.
Ada banyak hal yang bisa dikomunikasikan:
- “Kami ahli digital marketing.”
- “Kami sudah berpengalaman.”
- “Kami menyediakan social media management.”
- “Kami menyediakan Ads.”
- “Kami menyediakan SEO.”
Semuanya benar.
Tetapi belum tentu semuanya menjadi pesan utama yang paling relevan untuk target market.
Kalau target market-nya adalah bisnis yang sudah pernah menggunakan agency tetapi leads-nya tidak konsisten, misalnya, pesan yang lebih relevan bisa berangkat dari masalah:
“Sudah menjalankan digital marketing, tapi leads masih naik-turun dan sulit tahu apa penyebabnya?”
Sekarang komunikasi terasa lebih dekat.
Bukan sekadar menjelaskan layanan.
Tetapi menunjukkan bahwa brand memahami masalah customer.
Itulah salah satu fungsi strategi.
5. Strategi Menentukan Channel Mana yang Layak Diprioritaskan
Tidak semua bisnis harus aktif di semua channel.
Instagram, TikTok, Google, Facebook, YouTube, website, email marketing, WhatsApp, dan berbagai channel lainnya memang bisa digunakan.
Tetapi pertanyaannya bukan:
“Channel apa yang sedang populer?”
Pertanyaannya:
“Di mana target customer kita berada dan bagaimana mereka mengambil keputusan?”
Contohnya bisa berbeda.
Bisnis F&B mungkin mendapatkan banyak peluang dari Instagram dan TikTok.
Bisnis jasa profesional bisa mendapatkan customer dari Google Search.
Bisnis B2B mungkin lebih membutuhkan kombinasi website, SEO, LinkedIn, outbound, dan lead generation.
Bisnis dengan produk visual bisa membutuhkan social media sebagai channel utama untuk membangun demand.
Jadi, strategi bukan berarti menggunakan sebanyak mungkin channel.
Justru strategi membantu bisnis menentukan channel mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu.
6. Strategi Membuat Semua Aktivitas Punya Benang Merah
Inilah salah satu manfaat terbesar dari strategi.
Bayangkan digital marketing sebagai sebuah ekosistem.
Konten membawa pesan.
Ads membawa traffic.
Landing page menjelaskan penawaran.
Website membangun kepercayaan.
WhatsApp menjadi tempat customer bertanya.
Sales melakukan follow-up.
Kalau semuanya dibuat tanpa koordinasi, customer bisa mendapatkan pengalaman yang berbeda di setiap titik.
Namun ketika strategi sudah ditentukan, setiap bagian bisa saling mendukung.
Misalnya:
Target: pemilik bisnis yang membutuhkan jasa digital marketing.
↓
Masalah: sudah pernah mencoba Ads tetapi leads tidak konsisten.
↓
Pesan: digital marketing membutuhkan strategi, testing, dan optimasi, bukan sekadar menyalakan Ads.
↓
Content: edukasi tentang kesalahan umum dalam menjalankan Ads.
↓
Ads: mengarahkan target audience yang relevan ke landing page.
↓
Landing page: menjelaskan pendekatan dan layanan.
↓
CTA: konsultasi.
Sekarang setiap aktivitas punya hubungan.
Bukan sekadar kumpulan pekerjaan marketing.
7. Strategi Juga Membuat Evaluasi Jadi Lebih Masuk Akal
Tanpa strategi, evaluasi sering kali hanya berhenti di angka.
“Views turun.”
“Engagement naik.”
“CPC mahal.”
“Leads sedikit.”
Kemudian tim langsung mengganti sesuatu.
Padahal angka tersebut harus dibaca dalam konteks tujuan campaign.
Misalnya leads turun 20%.
Apakah berarti campaign gagal?
Belum tentu.
Bisa saja kualitas leads justru meningkat.
Atau biaya per lead naik, tetapi conversion rate dari lead menjadi customer meningkat.
Atau jumlah leads naik, tetapi sebagian besar ternyata tidak sesuai target market.
Karena itu, strategi membantu menentukan indikator apa yang sebenarnya penting untuk diperhatikan.
Bisnis tidak hanya bertanya:
“Angkanya naik atau turun?”
Tetapi:
“Apakah angka tersebut membawa kita lebih dekat ke tujuan bisnis?”
Ini perbedaan besar antara sekadar menjalankan marketing dan mengelola marketing.
Strategi → Eksekusi → Evaluasi → Optimasi
Strategi bukan berarti setelah membuat planning, semuanya selesai.
Justru strategi menjadi titik awal dari sebuah siklus.
Alurnya kurang lebih seperti ini:
Strategi
↓
Menentukan target, tujuan, positioning, pesan, channel, dan KPI.
Eksekusi
↓
Menjalankan konten, Ads, landing page, website, dan aktivitas marketing lainnya.
Evaluasi
↓
Melihat data dan membandingkan hasil dengan target.
Optimasi
↓
Memperbaiki creative, audience, offer, landing page, budget, atau channel berdasarkan data.
Lalu hasil dari optimasi tersebut kembali digunakan untuk memperbaiki strategi berikutnya.
Jadi strategi bukan dokumen yang dibuat sekali lalu disimpan.
Strategi harus terus berkembang berdasarkan apa yang terjadi di lapangan.
Baca juga: 5 Tanda Digital Marketing Bisnis Kamu Jalan di Tempat, Cek Satu-Satu
Jadi, Haruskah Bisnis Berhenti Eksekusi Sampai Strateginya Sempurna?
Tidak juga.
Ini juga penting.
Menunggu strategi menjadi “sempurna” sebelum melakukan apa pun justru bisa membuat bisnis tidak bergerak.
Karena strategi yang baik membutuhkan data.
Dan data biasanya baru muncul setelah kita melakukan eksperimen.
Jadi pendekatannya bukan:
Strategi → menunggu sempurna → baru eksekusi.
Lebih tepat:
Strategi → eksekusi → data → evaluasi → optimasi.
Yang tidak boleh adalah eksekusi tanpa arah.
Kita tetap perlu bergerak.
Tetapi setiap aktivitas sebaiknya memiliki alasan yang jelas.
Sebelum Menambah Budget Ads, Cek 5 Hal Ini Dulu
Kalau saat ini Ads atau konten bisnis belum memberikan hasil yang diharapkan, jangan langsung berasumsi bahwa solusinya adalah menambah budget.
Coba cek lima hal berikut:
1. Tujuannya sudah jelas?
Tahu apakah campaign dibuat untuk awareness, traffic, leads, atau sales.
2. Target market-nya spesifik?
Tahu siapa yang ingin dijangkau dan kenapa mereka relevan.
3. Pesannya sudah sesuai?
Bukan hanya menjelaskan produk, tetapi menjawab kebutuhan atau masalah target market.
4. Channel-nya tepat?
Pastikan channel yang digunakan memang relevan dengan cara customer mencari informasi dan mengambil keputusan.
5. Data yang diukur sudah benar?
Jangan hanya melihat likes dan views kalau tujuan akhirnya adalah mendapatkan leads atau sales.
Kalau lima hal ini saja belum jelas, menambah budget belum tentu menjadi solusi.
Karena Marketing Bukan Tentang Seberapa Sibuk Kita
Ada bisnis yang setiap hari membuat konten.
Ada yang rutin menjalankan Ads.
Ada yang aktif di berbagai platform.
Ada yang bahkan memiliki banyak aktivitas marketing sekaligus.
Tetapi ketika semua aktivitas tersebut tidak diarahkan oleh strategi yang sama, hasilnya bisa terasa seperti berjalan di tempat.
Banyak aktivitas bukan berarti banyak hasil.
Karena itu, sebelum bertanya:
“Konten apa yang harus kita buat minggu ini?”
atau
“Berapa budget Ads yang harus kita tambah?”
coba kembali satu langkah.
Tanyakan dulu:
“Strategi kita sebenarnya apa?”
Siapa yang ingin kita dapatkan?
Masalah apa yang ingin kita selesaikan?
Apa yang membuat mereka memilih kita?
Pesan apa yang harus terus mereka dengar?
Channel mana yang paling masuk akal?
Dan hasil seperti apa yang sebenarnya ingin dicapai?
Setelah itu barulah eksekusi menjadi jauh lebih mudah diarahkan.
Strategi Dulu, Baru Eksekusi
Pada akhirnya, strategi bukan sesuatu yang memperlambat eksekusi.
Justru strategi membantu memastikan setiap eksekusi punya tujuan.
Konten tidak dibuat hanya supaya akun tetap aktif.
Ads tidak dipasang hanya supaya campaign berjalan.
Landing page tidak dibuat hanya karena bisnis “harus punya”.
Semua aktivitas tersebut seharusnya menjadi bagian dari satu perjalanan yang sama:
menjangkau orang yang tepat → menyampaikan pesan yang tepat → membangun kepercayaan → mendorong tindakan → menghasilkan pertumbuhan bisnis.
Jadi sebelum menambah konten, menambah channel, atau menaikkan budget Ads, coba berhenti sebentar.
Cek strateginya dulu.
Karena kalau arah belum jelas, menambah kecepatan hanya membuat kita semakin cepat pergi ke tempat yang salah.
Butuh Bantu Menentukan Strategi Digital Marketing?
Kalau kamu merasa aktivitas digital marketing bisnis sudah cukup banyak, tapi hasilnya belum konsisten, mungkin yang perlu dibenahi bukan sekadar eksekusinya.
Bisa jadi bisnis kamu perlu kembali melihat fondasinya:
target market → positioning → message → channel → execution → measurement → optimization.
Jangkar Digital bisa membantu menyusun dan menjalankan strategi digital marketing yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis, mulai dari strategi, content, Ads, hingga evaluasi performa.
Lihat Layanan Digital Marketing Jangkar
Kalau masih belum yakin harus mulai dari mana, kamu juga bisa konsultasi gratis bersama tim Jangkar Digital.
Konsultasi Gratis via WhatsApp
Baca juga: 1 Tim Digital Marketing Mulai 1 Jutaan: Punya Tim Lengkap untuk Bisnis



