Dalam sepak bola, tidak semua pelanggaran bisa dibiarkan. Ada saatnya wasit mengeluarkan kartu merah dan meminta pemain keluar dari pertandingan.
Hal yang sama juga berlaku dalam digital marketing.
Ada kebiasaan marketing yang terlihat biasa saja, bahkan sering dilakukan banyak bisnis. Posting setiap hari, mengikuti tren yang sedang ramai, terus menawarkan produk, atau menggunakan materi iklan yang sama berulang kali.
Masalahnya, aktivitas tersebut belum tentu membawa bisnis lebih dekat ke target yang ingin dicapai.
Posting tanpa strategi? Red card.
Ikut semua tren tanpa arah? Red card.
Terus menjalankan iklan tanpa mengevaluasi hasilnya? Definitely a red card.
Digital marketing bukan soal siapa yang paling sering muncul di media sosial. Yang lebih penting adalah memahami mengapa konten dibuat, siapa yang ingin dijangkau, dan tindakan apa yang diharapkan dari audiens.
Berikut lima kebiasaan digital marketing yang perlu dievaluasi sebelum menjadi penghambat pertumbuhan bisnis.
1. Posting Tanpa Strategi: Red Card!
Pernah merasa harus mengunggah sesuatu karena akun Instagram sudah beberapa hari tidak aktif?
Akhirnya, tim membuat konten seadanya agar feed tetap terisi.
Hari ini promosi produk, besok kutipan motivasi, lusa mengikuti tren yang sedang ramai. Semua terlihat seperti aktivitas marketing, tetapi belum tentu memiliki hubungan satu sama lain.
Posting secara konsisten memang penting, tetapi konsistensi tanpa arah bukan strategi.
Sebelum membuat konten, bisnis perlu memahami beberapa hal:
- Goal: Apa yang ingin dicapai? Awareness, engagement, leads, atau penjualan?
- Audience: Siapa yang ingin dijangkau dan apa masalah mereka?
- Content direction: Informasi seperti apa yang relevan bagi audiens?
- Measurement: Bagaimana keberhasilan konten akan dinilai?
Contohnya, bisnis jasa pembuatan website ingin mendapatkan lebih banyak calon klien.
Jika seluruh konten hanya berisi desain website yang bagus, audiens mungkin menikmati visualnya tanpa memahami manfaat layanan tersebut.
Strateginya bisa dibuat lebih terarah dengan membagi konten menjadi beberapa jenis.
| Jenis Konten | Tujuan | Contoh |
|---|---|---|
| Edukasi | Membangun awareness dan pemahaman | Tanda website bisnis perlu diperbaiki |
| Problem-solving | Menunjukkan relevansi layanan | Kenapa pengunjung website tidak menghubungi bisnis? |
| Trust-building | Membangun kepercayaan | Proses pengerjaan dan studi kasus proyek |
| Conversion | Mendorong tindakan | Konsultasi kebutuhan website |
Dengan pendekatan ini, setiap konten memiliki fungsi yang lebih jelas.
Kamu juga tidak harus menjadikan setiap unggahan sebagai promosi. Yang penting, seluruh konten mendukung arah komunikasi brand.
Red card moment: Kamu rutin posting, tetapi tidak bisa menjelaskan tujuan dari konten yang dibuat.
2. Terlalu Fokus Jualan: Red Card!
Bayangkan kamu baru mengenal sebuah brand hari ini.
Belum tahu siapa mereka, belum memahami produknya, dan belum punya alasan untuk percaya. Namun, setiap kali membuka akun mereka, kamu selalu menemukan pesan yang sama:
“Buy now!”
“Pesan sekarang!”
“Jangan sampai kehabisan!”
Penawaran seperti ini memang dibutuhkan dalam marketing. Masalahnya muncul ketika hampir semua konten hanya meminta audiens membeli.
Tidak semua orang yang melihat konten sudah siap melakukan transaksi. Sebagian masih mencari informasi, membandingkan pilihan, atau mencoba memahami apakah produk tersebut relevan dengan kebutuhan mereka.
Karena itu, konten perlu memberikan alasan bagi audiens untuk tetap memperhatikan brand kamu.
Coba seimbangkan konten dengan pendekatan berikut:
Konten edukasi
Bantu audiens memahami masalah atau kebutuhan mereka.
Contoh: “3 Hal yang Perlu Dicek Sebelum Memilih Jasa Pembuatan Website.”
Konten hiburan dan relatable
Buat brand terasa lebih dekat dengan kehidupan audiens tanpa memaksakan setiap tren.
Contoh: konten ringan tentang tantangan mengelola bisnis ketika semua pekerjaan harus ditangani sendiri.
Konten problem-solving
Tunjukkan bahwa brand memahami masalah yang dihadapi audiens.
Contoh: “Kenapa Banyak Pengunjung Website Tidak Berujung Menjadi Leads?”
Konten promosi
Jelaskan layanan, manfaat, penawaran, atau langkah yang bisa dilakukan audiens untuk membeli.
Contoh: “Konsultasikan Kebutuhan Website Bisnis Kamu Bersama Jangkar.”
Konten promosi tetap penting. Namun, ketika audiens juga mendapatkan informasi dan manfaat dari konten lainnya, brand memiliki lebih banyak kesempatan untuk membangun hubungan sebelum menawarkan produk.
Pendekatan ini sejalan dengan riset tentang konten brand di media sosial yang menyoroti pentingnya nilai konten, relevansi, dan respons audiens dalam membangun engagement.
Red card moment: Setiap unggahan berakhir dengan ajakan membeli, tetapi hampir tidak ada konten yang membantu audiens memahami mengapa mereka membutuhkan produkmu.
3. Mengejar Semua Tren: Red Card!
Tren baru muncul hampir setiap hari.
Ada audio viral, format Reels baru, meme yang ramai digunakan, hingga challenge yang diikuti berbagai brand.
Wajar kalau bisnis ingin ikut memanfaatkan tren tersebut. Tren bisa menjadi kesempatan untuk meningkatkan jangkauan dan membuat konten terasa relevan dengan percakapan yang sedang berlangsung.
Namun, ada satu pertanyaan yang sering terlupakan:
Apakah tren ini benar-benar cocok untuk brand kita?
Konten yang berhasil untuk brand fashion belum tentu cocok untuk perusahaan jasa profesional. Format humor yang relevan untuk audiens anak muda juga belum tentu sesuai dengan target pasar bisnis B2B.
Ketika sebuah brand mengikuti tren hanya karena sedang ramai, hasilnya bisa terasa dipaksakan. Konten mungkin mendapatkan perhatian sesaat, tetapi tidak membantu audiens memahami identitas atau layanan brand.
Sebelum mengikuti tren, gunakan tiga pertanyaan sederhana.
- Relevan dengan audience? Apakah target pasar kamu memahami dan tertarik dengan tren tersebut?
- Sesuai dengan brand identity? Apakah format dan cara penyampaiannya cocok dengan karakter brand?
- Mendukung tujuan konten? Apakah tren tersebut membantu menyampaikan pesan atau hanya mengejar views?
Misalnya, sebuah perusahaan penyedia layanan digital ingin mengikuti tren audio yang sedang viral.
Tren itu masih bisa digunakan, tetapi sebaiknya dikaitkan dengan situasi yang relevan, seperti kesalahan umum ketika mengelola Ads atau pengalaman mengembangkan website bisnis.
Dengan begitu, tren menjadi media untuk menyampaikan pesan, bukan pesan itu sendiri.
Ingat, brand tidak harus mengikuti semua tren agar tetap relevan. Terkadang, memilih tren yang tepat jauh lebih bernilai daripada mengikuti semuanya.
Red card moment: Konten terlihat viral, tetapi audiens tidak memahami hubungan antara konten tersebut dengan brand kamu.
Baca juga: CPL vs CAC: Kenapa Leads Murah Belum Tentu Menguntungkan?
4. Membuat Konten Tanpa Melihat Data: Red Card!
“Kayaknya konten ini bagus.”
“Sepertinya audiens suka format seperti ini.”
“Posting kemarin engagement-nya lumayan, kita ulang saja.”
Pendapat seperti ini boleh menjadi titik awal untuk bereksperimen. Namun, keputusan marketing sebaiknya tidak berhenti pada asumsi.
Data membantu bisnis memahami apa yang benar-benar terjadi setelah konten dipublikasikan.
Beberapa metrik yang bisa diperhatikan antara lain:
| Metrik | Hal yang Bisa Dievaluasi |
|---|---|
| Reach | Seberapa luas konten menjangkau audiens |
| Engagement | Apakah audiens berinteraksi dengan konten |
| Saves & Shares | Apakah konten dianggap berguna atau layak dibagikan |
| Profile Visits | Apakah konten mendorong audiens mencari tahu lebih jauh tentang brand |
| Link Clicks | Apakah audiens tertarik melanjutkan perjalanan ke website atau halaman tujuan |
| Leads | Apakah konten atau campaign menghasilkan calon customer |
| Conversion | Apakah calon customer melakukan tindakan yang ditargetkan |
Setiap metrik memiliki fungsi berbeda. Karena itu, jangan menilai seluruh konten hanya dari likes atau views.
Misalnya, sebuah konten edukasi mendapatkan banyak saves dan shares. Hal ini bisa menjadi sinyal bahwa informasi yang diberikan bermanfaat bagi audiens.
Sementara itu, konten promosi mungkin mendapatkan engagement lebih rendah, tetapi menghasilkan lebih banyak klik menuju halaman layanan.
Apakah artinya konten edukasi lebih baik?
Belum tentu. Keduanya bisa berhasil karena memiliki tujuan yang berbeda.
Yang perlu dilakukan adalah menghubungkan hasil dengan tujuan awal konten.
Bagaimana Cara Mengevaluasi Konten dengan Benar?
Coba lakukan langkah berikut:
- Tentukan tujuan konten sebelum dipublikasikan.
- Pilih metrik yang sesuai dengan tujuan tersebut.
- Bandingkan hasil dengan konten sejenis, bukan dengan semua konten sekaligus.
- Cari pola dari konten yang memiliki performa baik maupun buruk.
- Gunakan temuan tersebut untuk memperbaiki ide, format, pesan, atau distribusi berikutnya.
Evaluasi juga perlu dilakukan secara berkala. Satu konten yang kurang berhasil tidak otomatis berarti seluruh strateginya salah.
Red card moment: Kamu terus membuat konten baru, tetapi tidak pernah mempelajari apa yang bisa diperbaiki dari konten sebelumnya.
5. Menggunakan Creative yang Sama Terus-Menerus: Red Card!
Creative yang pernah menghasilkan banyak klik atau leads memang layak dipertahankan selama masih bekerja dengan baik.
Namun, bukan berarti materi tersebut harus digunakan selamanya.
Perhatian audiens bisa berubah. Kompetitor meluncurkan pesan baru. Penawaran bisnis berkembang. Bahkan materi iklan yang awalnya efektif bisa kehilangan daya tarik setelah audiens terlalu sering melihatnya.
Kondisi ini dikenal sebagai creative fatigue, yaitu situasi ketika materi iklan mulai kehilangan efektivitas akibat paparan berulang atau karena sudah kurang relevan bagi audiens.
Dalam iklan berbayar, dampaknya perlu diperhatikan melalui perubahan metrik seperti CTR, biaya per hasil, frekuensi tayang, dan conversion rate. Tidak ada satu metrik yang selalu membuktikan creative fatigue, sehingga evaluasi tetap perlu mempertimbangkan konteks campaign.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Kamu tidak harus mengganti seluruh strategi setiap kali performa iklan menurun.
Mulailah dengan menguji variasi creative secara terarah.
1. Ganti angle komunikasi
Jika sebelumnya iklan menonjolkan fitur, coba tonjolkan masalah yang diselesaikan.
Contoh:
- Sebelumnya: “Jasa Pembuatan Website Profesional.”
- Angle baru: “Masih Mengandalkan Marketplace untuk Semua Penjualan?”
2. Uji hook yang berbeda
Pesan utama bisa tetap sama, tetapi pembuka konten dibuat lebih relevan dengan kebutuhan audiens.
3. Variasikan format
Coba perbandingan antara video pendek, carousel edukasi, testimoni, studi kasus, atau demonstrasi produk sesuai tujuan campaign.
4. Perbarui bukti dan penawaran
Gunakan hasil proyek terbaru, contoh penggunaan produk, atau informasi layanan yang benar-benar relevan.
5. Evaluasi berdasarkan hasil
Jangan langsung mengganti semua materi secara bersamaan. Uji variasi dengan tujuan dan periode evaluasi yang jelas agar kamu bisa memahami perubahan yang terjadi.
Creative baru bukan jaminan performa akan meningkat. Tujuannya adalah memberi kesempatan untuk menemukan pendekatan yang lebih relevan dan efektif.
Red card moment: Kamu terus menjalankan materi iklan yang sama hanya karena dulu pernah berhasil, tanpa memeriksa performanya sekarang.
Checklist: Apakah Digital Marketing Kamu Layak Mendapat Red Card?
Sebelum memublikasikan konten atau melanjutkan campaign berikutnya, coba periksa lima hal ini.
- Konten memiliki tujuan yang jelas.
- Pesan sesuai dengan kebutuhan audiens dan karakter brand.
- Konten memberikan manfaat, bukan hanya meminta audiens membeli.
- Performa dievaluasi menggunakan metrik yang sesuai.
- Materi iklan diperbarui atau diuji kembali ketika diperlukan.
Jika beberapa poin belum terpenuhi, bukan berarti kamu harus menghentikan seluruh aktivitas marketing.
Jadikan checklist ini sebagai titik awal untuk memperbaiki proses yang sudah berjalan.
Digital marketing yang efektif tidak selalu membutuhkan lebih banyak posting, lebih banyak tren, atau lebih banyak budget. Terkadang, hasil yang lebih baik dimulai dari menghentikan kebiasaan yang tidak lagi mendukung tujuan bisnis.
Digital Marketing Bukan Tentang Melakukan Lebih Banyak
Strategi yang baik membantu bisnis memahami apa yang perlu dilakukan, mengapa hal tersebut penting, dan bagaimana hasilnya akan diev
Konten, desain, Ads, dan website juga seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri. Semuanya perlu mendukung pesan brand dan perjalanan customer.
Karena itu, sebelum konten berikutnya dipublikasikan, tanyakan kembali:
Apa tujuan konten ini? Siapa yang ingin kita jangkau? Apa yang ingin kita bantu atau sampaikan? Dan bagaimana kita tahu bahwa konten ini berhasil?
Kalau jawabannya belum jelas, mungkin sudah waktunya meniup peluit dan mengevaluasi strateginya.
Bad strategy? Red card.
No clear direction? Red card.
Posting just for the sake of posting? Definitely a red card.
Bangun Strategi Digital Marketing yang Lebih Terarah Bersama Jangkar
Jangkar Digital membantu bisnis menghubungkan strategy, content, design, Ads, dan website dalam pendekatan digital marketing yang lebih terarah.
Bukan sekadar membuat brand terus muncul di media sosial, tetapi membantu memastikan setiap aktivitas digital memiliki peran yang jelas dalam mendukung tujuan bisnis.
Kalau kamu ingin mengevaluasi strategi marketing yang sedang berjalan atau membangun pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan brand, diskusikan bersama tim Jangkar.
Pelajari layanan Digital Marketing Jangkar
Atau hubungi Jangkar melalui WhatsApp.
Good marketing isn’t about doing more. It’s about doing what actually moves your brand forward.
Baca juga: Ads Sudah Dapat Impressions, Tapi Tidak Closing? Cek 5 Masalah Ini



