Pernah mengunggah konten di Instagram, lalu melihat tombol “Promosikan Postingan”?
Tinggal klik, pilih tujuan, tentukan budget, lalu iklan berjalan.
Praktis? Jelas.
Namun, apakah itu berarti bisnis sudah menjalankan strategi Ads?
Belum tentu.
Banyak bisnis menganggap aktivitas memasang iklan sudah cukup untuk disebut sebagai digital marketing. Padahal, menjalankan iklan dan merancang strategi iklan adalah dua hal yang berbeda.
Keduanya sama-sama menggunakan budget. Keduanya bisa mendatangkan jangkauan, kunjungan, atau interaksi. Tetapi, cara kerja dan tujuan akhirnya bisa sangat berbeda.
Kalau selama ini iklan bisnis hanya berjalan dengan pola:
Nyalakan → Tunggu → Lihat hasil → Selesai
Mungkin yang perlu diperbaiki bukan langsung menambah budget, melainkan melihat kembali strateginya.
Apa Itu Boost Posting?
Boost Posting atau Boost Post adalah fitur praktis yang memungkinkan bisnis mempromosikan konten yang sudah diunggah ke Instagram atau Facebook.
Biasanya, prosesnya cukup sederhana:
- Pilih postingan yang ingin dipromosikan.
- Klik tombol Promosikan atau Boost Post.
- Tentukan tujuan iklan.
- Pilih audiens.
- Atur budget dan durasi.
- Jalankan promosi.
Fitur ini memang membantu bisnis memperluas jangkauan konten tanpa harus masuk terlalu dalam ke pengaturan iklan.
Boost Posting dapat digunakan ketika bisnis ingin:
- Menjangkau lebih banyak orang.
- Mendapatkan interaksi pada konten.
- Meningkatkan kunjungan ke profil.
- Mendorong lebih banyak orang melihat postingan.
- Menguji apakah sebuah konten menarik perhatian audiens.
Dengan kata lain, Boost Posting bisa menjadi alat distribusi konten.
Namun, alat distribusi belum otomatis menjadi strategi pemasaran yang lengkap.
Lalu, Apa yang Dimaksud dengan Strategi Ads?
Strategi Ads adalah proses merancang iklan berdasarkan tujuan bisnis, target audiens, pesan, penawaran, channel, budget, dan data hasil kampanye.
Jadi, fokusnya bukan hanya pada pertanyaan:
“Bagaimana cara membuat iklan berjalan?”
Melainkan juga:
“Siapa yang ingin dijangkau, apa yang ingin mereka lakukan, dan bagaimana iklan ini membantu bisnis mencapai target?”
Strategi Ads biasanya mencakup beberapa tahap:
- Menentukan tujuan kampanye.
- Memahami target audiens.
- Menentukan masalah atau kebutuhan audiens.
- Menyusun pesan iklan.
- Memilih materi kreatif.
- Menentukan landing page atau tujuan setelah iklan diklik.
- Menentukan budget.
- Menguji beberapa variasi.
- Membaca data.
- Melakukan optimasi.
- Mengukur dampak terhadap bisnis.
Di sini terlihat perbedaannya.
Boost Posting lebih berfokus pada mempromosikan konten yang sudah ada. Sementara itu, strategi Ads melihat iklan sebagai bagian dari sistem pemasaran yang lebih besar.
Perbedaan Boost Posting dan Strategi Ads
| Aspek | Boost Posting | Strategi Ads |
|---|---|---|
| Tujuan utama | Memperluas jangkauan atau interaksi | Mencapai tujuan bisnis yang lebih spesifik |
| Proses | Cepat dan sederhana | Membutuhkan perencanaan dan pengujian |
| Materi iklan | Biasanya menggunakan postingan yang sudah ada | Bisa menggunakan berbagai format dan materi khusus |
| Audiens | Menggunakan pilihan audiens yang tersedia | Disusun berdasarkan riset dan kebutuhan bisnis |
| Pengukuran | Jangkauan, interaksi, kunjungan | Leads, penjualan, biaya per hasil, ROAS, dan metrik relevan lainnya |
| Optimasi | Relatif terbatas | Dilakukan berdasarkan data dan performa |
| Hubungan dengan bisnis | Sering berdiri sendiri | Terhubung dengan konten, website, penawaran, dan proses penjualan |
Perlu digarisbawahi, Boost Posting bukan sesuatu yang selalu salah.
Masalahnya muncul ketika Boost Posting digunakan untuk semua kebutuhan, termasuk kebutuhan yang sebenarnya membutuhkan perencanaan kampanye lebih mendalam.
Boost Posting Cocok untuk Kebutuhan Apa?
Boost Posting dapat masuk akal ketika tujuan bisnis memang sederhana dan jangka pendek.
Contohnya, sebuah kedai kopi baru membuka cabang dan ingin memperkenalkan lokasinya kepada orang-orang di sekitar area tersebut.
Konten yang dipromosikan bisa berupa:
- Video suasana kedai.
- Foto menu baru.
- Informasi grand opening.
- Pengumuman promo.
- Konten yang sudah mendapatkan interaksi organik cukup baik.
Dalam situasi seperti ini, Boost Posting dapat membantu memperluas jangkauan konten.
Namun, tetap penting untuk menentukan tujuan yang jelas.
Apakah bisnis ingin orang datang ke toko? Mengunjungi profil? Mengirim pesan? Atau hanya mengenal brand?
Semakin jelas tujuannya, semakin mudah bisnis menilai apakah promosi tersebut memberikan hasil yang sesuai.
Baca juga: Boost Post ≠ Strategi Ads: Sama-Sama Keluar Budget, Tapi Cara Kerjanya Beda
Kapan Boost Posting Mulai Menjadi Kurang Cukup?
Boost Posting bisa menjadi kurang cukup ketika bisnis mulai memiliki target yang lebih kompleks.
Misalnya:
- Ingin mendapatkan leads berkualitas.
- Ingin menjual produk melalui website.
- Ingin menjangkau segmen audiens tertentu.
- Ingin melakukan retargeting.
- Ingin menguji beberapa pesan iklan.
- Ingin mengetahui iklan mana yang menghasilkan penjualan.
- Ingin menurunkan biaya per leads.
- Ingin mengembangkan kampanye secara bertahap.
Pada tahap ini, bisnis tidak hanya membutuhkan lebih banyak orang yang melihat konten.
Bisnis membutuhkan proses yang bisa menjawab:
Orang yang melihat iklan ini siapa, lalu mereka melakukan apa?
Jika iklan hanya menghasilkan likes, tetapi tidak ada kunjungan berkualitas, pesan masuk, leads, atau penjualan, bisnis perlu melihat kembali alur kampanyenya.
Iklan yang Ramai Belum Tentu Iklan yang Efektif
Salah satu kesalahan umum dalam digital marketing adalah menganggap angka jangkauan dan interaksi sebagai satu-satunya indikator keberhasilan.
Padahal, metrik tersebut belum tentu menggambarkan dampak terhadap bisnis.
Bayangkan sebuah bisnis mengeluarkan budget Rp500.000 untuk mempromosikan konten.
Hasilnya:
- Jangkauan meningkat.
- Likes bertambah.
- Komentar terlihat ramai.
- Jumlah followers naik.
Namun, tidak ada calon pelanggan yang bertanya. Tidak ada kunjungan ke website. Tidak ada transaksi.
Apakah iklan tersebut berhasil?
Jawabannya bergantung pada tujuan awal kampanye.
Jika tujuan awalnya memang meningkatkan awareness, hasil tersebut mungkin relevan.
Tetapi jika tujuan utamanya adalah penjualan, maka bisnis perlu mengevaluasi metrik yang lebih dekat dengan proses pembelian.
Contohnya:
- Berapa orang yang mengunjungi halaman produk?
- Berapa orang yang mengisi form?
- Berapa orang yang menghubungi WhatsApp?
- Berapa biaya untuk mendapatkan satu leads?
- Berapa banyak leads yang berubah menjadi pelanggan?
- Berapa pendapatan yang dihasilkan dari budget iklan?
Iklan yang ramai belum tentu iklan yang menghasilkan.
Strategi Ads Dimulai Sebelum Iklan Dinyalakan
Strategi Ads seharusnya tidak dimulai ketika tombol “Publish” ditekan.
Strategi dimulai jauh sebelumnya.
1. Menentukan Tujuan
Tujuan iklan harus lebih spesifik daripada sekadar “ingin ramai”.
Contoh tujuan yang lebih jelas:
- Mendapatkan 30 leads dalam satu bulan.
- Meningkatkan kunjungan ke halaman produk.
- Mendorong konsultasi melalui WhatsApp.
- Memperkenalkan produk baru kepada audiens tertentu.
- Meningkatkan penjualan dari website.
Tujuan ini akan memengaruhi jenis kampanye, materi iklan, audiens, dan cara mengukur hasil.
2. Memahami Audiens
Iklan yang ditujukan kepada semua orang biasanya tidak benar-benar berbicara kepada siapa pun.
Bisnis perlu memahami:
- Siapa calon pelanggan?
- Apa kebutuhan mereka?
- Masalah apa yang sedang mereka hadapi?
- Apa yang membuat mereka ragu?
- Apa yang membuat mereka percaya?
- Apa alasan mereka harus memilih produk atau layanan tersebut?
Pesan iklan untuk pemilik restoran tentu berbeda dengan pesan iklan untuk konsumen rumah tangga.
Begitu juga dengan pesan untuk orang yang baru mengenal brand dan orang yang sudah pernah mengunjungi website.
3. Menentukan Pesan
Konten yang bagus belum tentu otomatis menjadi materi iklan yang bagus.
Sebuah konten bisa menarik secara visual, tetapi belum menjelaskan:
- Masalah apa yang diselesaikan.
- Produk atau layanan apa yang ditawarkan.
- Mengapa audiens perlu peduli.
- Apa langkah berikutnya yang harus dilakukan.
Karena itu, materi iklan perlu disesuaikan dengan tujuan kampanye.
Kadang, iklan membutuhkan hook yang lebih langsung. Kadang, iklan membutuhkan edukasi. Kadang, iklan perlu menonjolkan bukti, testimoni, harga, atau keunggulan layanan.
Tidak semua konten harus menjual secara langsung. Tetapi setiap iklan sebaiknya memiliki arah yang jelas.
4. Menyiapkan Tujuan Setelah Iklan Diklik
Iklan tidak berhenti ketika seseorang menekan tombol.
Setelah klik, audiens perlu diarahkan ke tujuan yang relevan.
Bisa berupa:
- Website.
- Halaman produk.
- Landing page.
- Form konsultasi.
- WhatsApp.
- Halaman katalog.
- Profil bisnis.
Jika iklan menawarkan produk tertentu tetapi setelah diklik audiens diarahkan ke halaman yang terlalu umum, peluang terjadinya konversi bisa menurun.
Karena itu, iklan dan tujuan setelah klik harus memiliki kesinambungan.
Baca juga: Gini Caranya Customer Nemuin Bisnis Kamu Tanpa Iklan Tiap Hari
Jangan Hanya Menjalankan Iklan, Lakukan Pengujian
Salah satu pembeda penting antara Boost Posting sederhana dan strategi Ads adalah proses pengujian.
Dalam strategi Ads, bisnis tidak selalu langsung tahu:
- Visual mana yang paling menarik.
- Hook mana yang paling efektif.
- Audiens mana yang paling responsif.
- Penawaran mana yang paling mudah dipahami.
- Format iklan mana yang menghasilkan leads berkualitas.
- Landing page mana yang paling banyak menghasilkan tindakan.
Itulah sebabnya pengujian diperlukan.
Bisnis bisa menguji beberapa elemen, seperti:
- Dua versi headline.
- Dua jenis visual.
- Video dan gambar.
- Pesan edukatif dan pesan penawaran.
- Audiens yang berbeda.
- Call to action yang berbeda.
Namun, pengujian sebaiknya dilakukan dengan terarah.
Jangan mengubah semua elemen sekaligus tanpa memahami apa yang sedang diuji. Jika semua berubah bersamaan, bisnis akan lebih sulit mengetahui faktor mana yang memengaruhi hasil.
Data Iklan Harus Dipakai untuk Mengambil Keputusan
Data bukan sekadar angka yang dilihat pada akhir bulan.
Data seharusnya membantu bisnis menentukan langkah berikutnya.
Misalnya:
- Jika banyak orang melihat iklan tetapi sedikit yang klik, mungkin pesan atau materi iklan perlu diperiksa.
- Jika banyak orang klik tetapi tidak mengisi form, mungkin landing page atau penawarannya belum cukup jelas.
- Jika leads banyak tetapi tidak berkualitas, mungkin target audiens atau pesan iklan perlu disesuaikan.
- Jika biaya per leads meningkat, mungkin kampanye perlu dioptimasi.
- Jika satu materi iklan menghasilkan performa lebih baik, materi tersebut bisa dipelajari untuk pengembangan berikutnya.
Dengan cara ini, iklan tidak berhenti sebagai aktivitas “menghabiskan budget”.
Iklan menjadi proses belajar yang terus berkembang.
Jangan Langsung Menambah Budget Ketika Hasil Belum Sesuai
Ketika iklan belum menghasilkan, respons yang sering muncul adalah:
“Coba tambah budget dulu.”
Padahal, menambah budget tidak selalu menyelesaikan masalah.
Jika pesan iklannya belum tepat, target audiensnya belum sesuai, atau halaman setelah klik tidak meyakinkan, budget yang lebih besar hanya dapat memperbesar proses yang belum efektif.
Sebelum menambah budget, periksa beberapa hal:
- Apakah tujuan kampanye sudah jelas?
- Apakah iklan menjangkau audiens yang tepat?
- Apakah materi iklan relevan?
- Apakah penawaran mudah dipahami?
- Apakah landing page atau WhatsApp siap menerima calon pelanggan?
- Apakah hasil diukur berdasarkan tujuan bisnis?
- Apakah sudah ada proses pengujian dan optimasi?
Budget memang penting.
Tetapi budget perlu bekerja di dalam strategi yang jelas.
Bagaimana Menentukan Apakah Bisnis Membutuhkan Strategi Ads?
Coba jawab beberapa pertanyaan berikut:
- Apakah bisnis hanya ingin memperluas jangkauan konten?
- Apakah bisnis memiliki target leads atau penjualan?
- Apakah audiens sudah ditentukan dengan jelas?
- Apakah setiap iklan memiliki tujuan yang berbeda?
- Apakah bisnis mengetahui biaya untuk mendapatkan satu leads atau pelanggan?
- Apakah ada proses evaluasi setelah iklan berjalan?
- Apakah materi iklan diuji secara berkala?
- Apakah iklan terhubung dengan website, landing page, atau proses follow-up?
Jika sebagian besar jawabannya masih “belum”, bisnis mungkin belum membutuhkan budget yang lebih besar.
Bisnis mungkin perlu membangun dasar strateginya terlebih dahulu.
Boost Posting Bukan Musuh, Tetapi Bukan Pengganti Strategi
Boost Posting tetap memiliki fungsi.
Fitur ini dapat membantu bisnis mempromosikan konten dengan proses yang sederhana. Untuk kebutuhan tertentu, cara ini bisa cukup.
Namun, ketika bisnis ingin membangun sistem pemasaran yang lebih terukur, Boost Posting sebaiknya tidak dianggap sebagai pengganti strategi Ads.
Keduanya berada pada konteks yang berbeda.
Boost Posting dapat membantu mendistribusikan konten.
Strategi Ads membantu mengarahkan aktivitas iklan agar terhubung dengan tujuan bisnis, audiens, pesan, proses konversi, dan evaluasi.
Jadi, pertanyaannya bukan:
“Harus pakai Boost Posting atau Ads Manager?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa tujuan bisnis, dan pendekatan iklan seperti apa yang paling sesuai untuk mencapainya?”
Kesimpulan: Sebelum Menambah Budget, Periksa Strateginya
Menjalankan iklan memang semakin mudah.
Tetapi membuat iklan bekerja untuk bisnis membutuhkan lebih dari sekadar menekan tombol “Promosikan”.
Bisnis perlu mengetahui siapa yang ingin dijangkau, pesan apa yang ingin disampaikan, tindakan apa yang diharapkan, serta bagaimana hasilnya akan diukur dan dioptimasi.
Kalau selama ini iklan hanya berjalan dengan pola:
Nyalakan → Tunggu → Selesai
Mungkin sudah waktunya mengubah pendekatan menjadi:
Rencanakan → Jalankan → Uji → Evaluasi → Optimasi
Karena iklan yang baik bukan hanya tentang berapa banyak orang yang melihat.
Iklan yang baik juga perlu membantu bisnis bergerak menuju tujuan yang lebih jelas.
Jangkar Digital membantu bisnis menyusun dan menjalankan strategi digital marketing secara lebih terarah, mulai dari perencanaan, content marketing, desain, Ads, website, hingga evaluasi performa.
Jangan hanya membuat iklan berjalan. Pastikan setiap budget memiliki arah.
Diskusikan kebutuhan digital marketing bisnis kamu bersama Jangkar Digital
Sekarang saatnya membangun website yang tidak hanya terlihat profesional, tetapi juga lebih mudah ditemukan oleh customer yang tepat.
Lihat Layanan Digital Marketing Jangkar
Baca juga: Mulai dari Rp1 Jutaan, Ini yang Kamu Dapetin dari 1 Team Digital Marketing



