Bayangkan sebuah bisnis supplier rempah yang selama ini mendapatkan customer dengan cara yang cukup konvensional.
Mencari calon customer satu per satu.
Canvassing.
Follow up.
Membangun relasi secara langsung.
Cara seperti ini bukan berarti salah. Bahkan untuk bisnis B2B, pendekatan langsung masih bisa sangat efektif.
Tapi ketika bisnis ingin berkembang lebih besar, muncul satu pertanyaan penting:
Apakah cara mendapatkan customer tersebut bisa terus dilakukan dalam skala yang lebih besar?
Inilah yang dialami oleh Okane, salah satu bisnis supplier rempah yang kemudian mulai membangun sistem digital marketing bersama Jangkar Digital.
Dari yang sebelumnya banyak mengandalkan canvassing untuk mendapatkan customer B2B, Okane mulai membangun sistem lead generation melalui digital marketing yang lebih terukur.
Hasilnya?
Average ROAS yang dicapai berada di kisaran 40–60x.
Namun yang menarik bukan hanya angka ROAS tersebut.
Yang lebih penting adalah bagaimana strategi digital marketing dibangun berdasarkan market, produk, data, dan optimasi yang terus dilakukan.
Dari Canvassing ke Lead Generation Digital
Dalam bisnis B2B, mendapatkan customer baru biasanya membutuhkan proses yang cukup panjang.
Tim sales harus mencari prospek.
Menghubungi calon customer.
Menjelaskan produk.
Melakukan follow up.
Kemudian menunggu sampai calon customer siap melakukan pembelian.
Masalahnya, semakin besar target bisnis, semakin besar pula jumlah prospek yang harus dicari.
Jika seluruh proses hanya mengandalkan canvassing, kapasitas pertumbuhan akhirnya ikut bergantung pada kapasitas tim sales.
Digital marketing membuka kemungkinan yang berbeda.
Alih-alih hanya mencari customer satu per satu, bisnis dapat membangun sistem yang memungkinkan calon customer menemukan dan mengenal bisnis terlebih dahulu.
Alurnya bisa menjadi:
Traffic → Awareness → Interest → Lead → Follow Up → Customer
Dengan sistem seperti ini, aktivitas marketing menjadi lebih terukur.
Bisnis bisa melihat dari mana calon customer datang, campaign mana yang menghasilkan lead, produk apa yang paling menarik perhatian, hingga channel mana yang memberikan hasil terbaik.
Dan inilah yang mulai dibangun bersama Okane.
Digital Marketing Bukan Sekadar Pasang Iklan
Salah satu kesalahpahaman yang cukup umum adalah menganggap digital marketing hanya berarti menjalankan iklan.
Padahal iklan hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan strategi.
Bayangkan bisnis memiliki iklan dengan budget besar.
Tapi target market-nya salah.
Atau produk yang ditawarkan tidak sesuai kebutuhan audience.
Atau iklannya mendapatkan banyak klik, tetapi landing page tidak mampu membuat calon customer percaya.
Hasilnya?
Traffic mungkin meningkat.
Tapi lead belum tentu bertambah.
Apalagi penjualan.
Karena itu, digital marketing yang efektif harus dimulai dari pertanyaan yang lebih fundamental:
Siapa yang sebenarnya ingin kita dapatkan sebagai customer?
Menentukan Market yang Tepat
Untuk bisnis B2B seperti supplier rempah, tidak semua orang adalah target customer.
Restoran bisa menjadi target.
Hotel bisa menjadi target.
Produsen makanan bisa menjadi target.
Distributor juga bisa menjadi target.
Namun kebutuhan setiap segmen tentu berbeda.
Restoran mungkin lebih memperhatikan konsistensi supply dan kualitas bahan.
Produsen makanan mungkin lebih fokus pada spesifikasi, volume, dan kontinuitas.
Sementara distributor bisa lebih memperhatikan harga, kapasitas, dan margin.
Artinya, satu pesan marketing tidak selalu cocok untuk semua orang.
Karena itu, salah satu bagian penting dalam strategi digital marketing adalah memahami:
- siapa target market,
- apa kebutuhan mereka,
- masalah apa yang mereka hadapi,
- bagaimana mereka mencari solusi,
- dan alasan apa yang membuat mereka akhirnya memilih supplier tertentu.
Semakin jelas market yang dituju, semakin mudah strategi marketing diarahkan.
Baca juga: Strategi Digital Bisnis: Bisnis Sudah Jalan, Lalu Apa Langkah Selanjutnya?
Produk yang Tepat Harus Ditawarkan ke Market yang Tepat
Setelah mengetahui siapa market-nya, langkah berikutnya adalah memahami produk yang paling relevan.
Ini sering kali terdengar sederhana.
Tapi dalam praktiknya, bisnis memiliki banyak produk dan tidak semuanya memiliki potensi yang sama untuk dijadikan pintu masuk customer baru.
Karena itu, data menjadi sangat penting.
Dari campaign yang berjalan, kita bisa melihat produk atau penawaran mana yang mendapatkan respons paling baik.
Misalnya:
| Data yang Diamati | Pertanyaan yang Dicari Jawabannya |
|---|---|
| Klik iklan | Apakah penawaran menarik perhatian? |
| Leads | Apakah audience benar-benar tertarik? |
| Cost per lead | Berapa biaya mendapatkan calon customer? |
| Conversion | Berapa banyak lead yang akhirnya menjadi customer? |
| ROAS | Seberapa besar revenue dibanding biaya iklan? |
Data tersebut kemudian menjadi dasar untuk mengambil keputusan berikutnya.
Bukan sekadar:
“Kayaknya iklan ini bagus.”
Tetapi:
“Data menunjukkan campaign ini memberikan hasil lebih baik, jadi strategi ini perlu dikembangkan.”
Inilah perbedaan antara digital marketing yang sekadar berjalan dan digital marketing yang benar-benar digunakan sebagai alat pertumbuhan bisnis.
Bagaimana ROAS 40–60x Bisa Terjadi?
Dalam studi kasus Okane, salah satu hasil yang menarik adalah average ROAS yang dapat mencapai sekitar 40–60x.
Secara sederhana, ROAS atau Return on Ad Spend digunakan untuk melihat berapa besar revenue yang dihasilkan dibandingkan dengan biaya iklan.
Misalnya sebuah campaign menghabiskan:
Rp1 juta untuk iklan
dan menghasilkan:
Rp40 juta revenue
maka secara sederhana ROAS-nya adalah:
40x.
Jika menghasilkan Rp60 juta dari Rp1 juta biaya iklan, maka ROAS-nya menjadi:
60x.
Namun perlu diperhatikan:
ROAS bukan berarti profit bersih.
Masih ada biaya produk, operasional, sales, distribusi, dan berbagai biaya bisnis lainnya yang perlu diperhitungkan.
Karena itu, ROAS sebaiknya digunakan sebagai salah satu indikator untuk melihat efektivitas advertising, bukan satu-satunya ukuran kesehatan bisnis.
Yang membuat angka ROAS tersebut menarik dalam kasus Okane adalah bagaimana strategi marketing dibangun dan terus dioptimasi berdasarkan data.
Data Menjadi Dasar untuk Mengambil Keputusan
Digital marketing memiliki satu kelebihan besar dibandingkan banyak metode marketing konvensional:
data.
Bisnis bisa mengetahui apa yang terjadi setelah sebuah campaign dijalankan.
Misalnya ternyata:
- Audience A lebih responsif dibanding Audience B.
- Produk tertentu menghasilkan lebih banyak inquiry.
- Creative tertentu mendapatkan engagement lebih tinggi.
- Landing page tertentu menghasilkan lebih banyak leads.
- Campaign tertentu memberikan ROAS lebih baik.
Informasi tersebut kemudian dapat digunakan untuk menentukan langkah berikutnya.
Campaign yang kurang efektif dapat diperbaiki.
Audience dapat dipersempit atau diperluas.
Creative dapat diuji kembali.
Penawaran dapat disesuaikan.
Landing page dapat dioptimasi.
Dengan kata lain, digital marketing menjadi sebuah proses:
Launch → Measure → Analyze → Optimize → Scale
Bukan:
Launch → Tunggu → Berharap.
Kenapa Optimasi Tidak Boleh Berhenti?
Salah satu kesalahan dalam menjalankan digital marketing adalah menganggap pekerjaan selesai setelah iklan berhasil tayang.
Padahal ketika campaign mulai berjalan, justru data baru mulai bermunculan.
Data tersebut bisa menunjukkan bahwa asumsi awal ternyata benar.
Atau justru sebaliknya.
Bisa jadi audience yang kita kira paling potensial ternyata bukan yang paling banyak menghasilkan leads.
Bisa juga creative yang terlihat paling menarik justru menghasilkan conversion yang lebih rendah.
Karena itu, optimasi menjadi bagian penting dari strategi.
Dalam kasus Okane, prosesnya bukan hanya menjalankan campaign, tetapi juga membaca data dan mencari peluang perbaikan secara terus-menerus.
Tujuannya bukan sekadar membuat iklan aktif.
Tetapi membuat sistem marketing menjadi semakin efektif.
Baca juga: Aset Digital Bisnis: Mengapa Kontrol Penuh Lebih Penting daripada Sekadar Banyak Order
Digital Marketing B2B Membutuhkan Strategi yang Berbeda
Marketing untuk bisnis B2B juga tidak selalu sama dengan bisnis B2C.
Customer B2B biasanya memiliki proses pengambilan keputusan yang lebih panjang.
Mereka mungkin membutuhkan:
- informasi produk,
- spesifikasi,
- kapasitas supply,
- kualitas,
- legalitas,
- pengalaman supplier,
- hingga komunikasi langsung dengan sales.
Artinya, digital marketing tidak selalu harus langsung menghasilkan transaksi.
Dalam banyak kasus, tujuan awalnya adalah menghasilkan qualified lead.
Setelah itu, proses penjualan dilanjutkan oleh tim sales.
Karena itu, sistem digital marketing B2B sebaiknya tidak hanya mengejar jumlah klik.
Yang lebih penting adalah:
Apakah traffic tersebut menghasilkan calon customer yang memang relevan?
Jangan Hanya Mengejar Traffic
Traffic besar memang terlihat menarik.
Tetapi 10.000 pengunjung yang tidak memiliki kebutuhan terhadap produk belum tentu lebih berharga dibandingkan 100 pengunjung yang benar-benar membutuhkan produk tersebut.
Itulah kenapa strategi digital marketing harus memperhatikan kualitas audience.
Untuk bisnis B2B, misalnya, mendapatkan beberapa inquiry dari calon buyer yang memang membutuhkan supply dalam jumlah besar bisa jauh lebih berharga dibandingkan mendapatkan ribuan engagement dari audience yang tidak relevan.
Jadi metrik marketing harus disesuaikan dengan tujuan bisnis.
Bukan sekadar:
“Berapa banyak orang yang melihat iklan?”
Tetapi juga:
“Berapa banyak orang yang benar-benar berpotensi menjadi customer?”
Dari Marketing ke Sistem Lead Generation
Inilah perubahan terbesar yang terjadi ketika bisnis mulai serius menggunakan digital marketing.
Marketing tidak lagi hanya menjadi aktivitas promosi.
Tetapi mulai dibangun menjadi sebuah sistem.
Misalnya:
Ads
↓
Landing Page / Website
↓
Lead
↓
WhatsApp / Form
↓
Sales Follow Up
↓
Customer
Setiap tahap memiliki fungsi masing-masing.
Iklan bertugas menarik perhatian.
Website atau landing page memberikan informasi dan membangun kepercayaan.
Form atau WhatsApp menangkap calon customer.
Sales kemudian melakukan follow up.
Dengan sistem seperti ini, bisnis memiliki alur yang lebih jelas untuk mendapatkan customer baru.
Website Tetap Menjadi Bagian Penting
Digital marketing tidak berdiri sendiri.
Ketika seseorang melihat iklan sebuah bisnis B2B, mereka hampir selalu membutuhkan informasi tambahan sebelum mengambil keputusan.
Mereka mungkin mencari:
“Siapa perusahaan ini?”
“Produknya apa saja?”
“Apakah mereka terpercaya?”
“Bagaimana cara menghubunginya?”
Di sinilah website berperan.
Website dapat menjadi tempat untuk menampilkan:
- profil perusahaan,
- produk dan layanan,
- portfolio,
- sertifikasi,
- testimoni,
- informasi kontak,
- hingga FAQ.
Dengan begitu, traffic dari digital marketing tidak berhenti hanya di iklan.
Ada tempat yang bisa membantu mengubah rasa penasaran menjadi kepercayaan.
Digital Marketing yang Baik Harus Bisa Diukur
Salah satu alasan bisnis mulai beralih ke digital marketing adalah karena hasilnya bisa dianalisis.
Bukan berarti semua hal menjadi sempurna atau setiap campaign pasti menghasilkan angka tinggi.
Tetapi setidaknya bisnis memiliki data untuk memahami apa yang terjadi.
Contohnya:
| Tahapan | Yang Perlu Dipantau |
| Awareness | Reach & Impressions |
| Interest | Click & Engagement |
| Lead Generation | Leads & Cost per Lead |
| Sales | Conversion & Revenue |
| Efisiensi | ROAS & Cost per Acquisition |
Dari sini bisnis dapat menentukan apakah strategi perlu dipertahankan, diperbaiki, atau dihentikan.
Inilah yang membuat digital marketing semakin relevan untuk bisnis yang ingin berkembang secara terukur.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Kasus Okane?
Kasus Okane menunjukkan satu hal penting:
Digital marketing bukan sekadar mengganti canvassing dengan iklan.
Perubahannya jauh lebih besar.
Bisnis mulai membangun sistem yang memungkinkan marketing:
- Menentukan target market yang lebih jelas.
- Menawarkan produk yang relevan.
- Menghasilkan leads secara digital.
- Membaca data campaign.
- Mengoptimasi strategi berdasarkan data.
- Mengukur hasil melalui metrik seperti ROAS.
- Mengembangkan campaign yang menunjukkan performa terbaik.
Dan ketika semua proses tersebut dilakukan secara konsisten, digital marketing dapat menjadi salah satu mesin pertumbuhan bisnis.
Apakah Semua Bisnis Bisa Mendapatkan ROAS 40–60x?
Tidak ada angka ROAS yang bisa dijanjikan untuk semua bisnis.
Hasil setiap campaign sangat bergantung pada banyak faktor, seperti:
- produk,
- harga,
- margin,
- target market,
- kompetisi,
- creative,
- landing page,
- sales process,
- hingga kualitas follow up.
Karena itu, angka 40–60x dalam kasus Okane adalah hasil dari studi kasus tertentu, bukan jaminan bahwa semua bisnis akan mendapatkan angka yang sama.
Justru pelajaran terpentingnya adalah bagaimana bisnis menggunakan data untuk menemukan strategi yang paling efektif.
Digital marketing bukan tentang mencari formula ajaib.
Tetapi tentang menemukan apa yang bekerja untuk bisnis tertentu, kemudian mengoptimalkannya.
Dari Canvassing ke Digital: Bukan Menghilangkan Sales
Perlu digarisbawahi juga bahwa digital marketing bukan berarti sales menjadi tidak dibutuhkan.
Justru untuk bisnis B2B, sales tetap memiliki peran yang sangat penting.
Digital marketing membantu membuka pintu.
Sales membantu membangun hubungan.
Marketing menghasilkan peluang.
Sales mengubah peluang menjadi customer.
Jika keduanya bekerja bersama, bisnis memiliki sistem acquisition yang jauh lebih kuat.
Karena sales tidak lagi harus selalu memulai dari nol.
Sebagian calon customer sudah mengenal brand dan produknya sebelum masuk ke tahap komunikasi.
Fondasi Digital yang Tepat Membuka Ruang untuk Growth
Pada akhirnya, pertumbuhan bisnis bukan hanya tentang mendapatkan lebih banyak traffic.
Bukan juga sekadar menambah budget iklan.
Yang lebih penting adalah memiliki fondasi yang memungkinkan setiap rupiah marketing digunakan secara lebih terarah.
Mulai dari:
Market → Message → Channel → Website → Lead → Sales → Data → Optimization
Ketika setiap bagian saling terhubung, bisnis memiliki sistem yang jauh lebih siap untuk berkembang.
Dan inilah yang menjadi salah satu fokus Jangkar Digital ketika membantu bisnis membangun strategi digital marketing.
Bukan hanya membuat iklan berjalan.
Tetapi memahami bisnis, mencari market yang tepat, membaca data, kemudian terus mengoptimasi strategi berdasarkan hasil yang diperoleh.
Kesimpulan
Perjalanan Okane menunjukkan bahwa bisnis B2B tidak harus selamanya mengandalkan cara konvensional untuk mendapatkan customer.
Canvassing tetap memiliki tempat.
Sales tetap penting.
Tetapi digital marketing dapat menjadi channel tambahan yang membantu bisnis membangun lead generation yang lebih terukur.
Dengan strategi yang tepat, bisnis dapat mulai memahami siapa target market-nya, produk apa yang paling relevan, campaign mana yang bekerja, dan bagaimana marketing dapat terus dioptimasi.
Dalam kasus Okane, pendekatan tersebut berhasil menghasilkan average ROAS sekitar 40–60x.
Namun pelajaran terbesarnya bukan sekadar angka tersebut.
Melainkan bagaimana market, strategi, data, dan optimasi bekerja bersama untuk membantu bisnis berkembang.
Karena digital marketing yang baik bukan hanya tentang mendapatkan traffic.
Tapi tentang mengubah traffic menjadi peluang bisnis yang bisa diukur dan terus dikembangkan.
Saatnya Digital Marketing Bekerja untuk Bisnis Anda
Kalau selama ini digital marketing bisnis Anda baru sebatas posting atau menjalankan iklan tanpa strategi yang jelas, mungkin sudah waktunya melihatnya dari perspektif yang berbeda.
Bukan sekadar:
“Bagaimana mendapatkan lebih banyak traffic?”
Tetapi:
“Bagaimana mendapatkan customer yang tepat dengan strategi yang bisa terus diukur dan dioptimasi?”
Jangkar Digital membantu bisnis membangun strategi digital marketing mulai dari content, social media, advertising, hingga optimasi berdasarkan data.
Pelajari lebih lanjut layanan Digital Marketing Jangkar melalui halaman layanan kami.
Anda juga bisa melihat estimasi biaya dan efisiensi channel digital melalui Kalkulator Efisiensi Marketplace, atau jika ingin membahas kebutuhan bisnis secara langsung, konsultasikan bersama tim Jangkar.
Mulai dari strategi yang tepat. Bangun sistem digital yang bisa membantu bisnis Anda terus berkembang.
Baca juga: Jasa Digital Marketing: 5 Hal yang Anda Dapat Saat Bisnis Ditangani Tim Profesional



