Marketplace telah membantu ribuan bisnis di Indonesia tumbuh lebih cepat. Dengan traffic yang besar dan sistem yang sudah siap digunakan, platform seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, dan TikTok Shop menjadi pilihan utama bagi banyak seller untuk memulai bisnis online.
Namun seiring bertambahnya omzet, banyak pemilik bisnis mulai menghadapi tantangan yang sama: biaya komisi terus meningkat, persaingan semakin ketat, dan hubungan dengan pelanggan tetap dimiliki oleh platform.
Akibatnya, bisnis berkembang tetapi kontrol terhadap pelanggan dan margin keuntungan justru semakin terbatas.
Karena itu banyak brand mulai membangun channel penjualan sendiri melalui website. Bukan untuk meninggalkan marketplace sepenuhnya, tetapi untuk menciptakan sistem yang lebih stabil, memiliki aset digital sendiri, dan mengurangi ketergantungan terhadap satu platform.
Artikel ini membahas langkah demi langkah bagaimana brand Indonesia dapat membangun website sendiri dan menjalankan strategi multi-channel yang lebih sehat dalam jangka panjang.
Kenapa Brand Besar Mulai Mengurangi Ketergantungan Marketplace?
Marketplace tetap efektif untuk mendapatkan pelanggan baru.
Namun ketika bisnis mulai berkembang, fokus tidak lagi hanya mencari traffic.
Fokus mulai bergeser ke:
- profit yang lebih sehat,
- repeat order,
- database pelanggan,
- dan aset digital jangka panjang.
Beberapa tantangan yang sering dihadapi seller marketplace:
| Tantangan | Dampak |
|---|---|
| Komisi Marketplace | Margin semakin tipis |
| Perubahan Algoritma | Penjualan tidak stabil |
| Persaingan Harga | Sulit membangun positioning premium |
| Data Customer Tidak Dimiliki | Sulit membangun repeat order |
| Ketergantungan Platform | Risiko bisnis meningkat |
Jika melihat artikel sebelumnya tentang biaya komisi marketplace, total potongan yang dibayarkan seller dapat mencapai:
| Marketplace | Total Potongan Umum |
| Shopee | 15% – 25% |
| Tokopedia | 12% – 20% |
| Lazada | 8% – 15% |
| TikTok Shop | 15% – 30% |
Semakin besar omzet bisnis, semakin besar pula biaya yang harus dibayarkan kepada platform.
Karena itu banyak brand mulai membangun website sebagai channel penjualan kedua.
5 Tanda Bisnis Anda Sudah Siap Punya Website Sendiri
Gunakan checklist berikut.
1. Omzet Sudah Stabil Setiap Bulan
Jika bisnis sudah menghasilkan penjualan secara konsisten, website dapat membantu meningkatkan profit dan memperkuat branding.
□ Ya
□ Belum
2. Mulai Merasa Berat dengan Komisi Marketplace
Jika setiap bulan Anda mengeluarkan jutaan rupiah untuk biaya marketplace, mungkin saatnya mulai membangun aset digital sendiri.
□ Ya
□ Belum
3. Ingin Mengumpulkan Database Pelanggan
Website memungkinkan bisnis mengumpulkan data pelanggan secara legal untuk kebutuhan email marketing, WhatsApp marketing, dan program loyalitas.
□ Ya
□ Belum
4. Ingin Tampil Lebih Profesional
Website membantu meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan pelanggan dibanding hanya mengandalkan marketplace atau media sosial.
□ Ya
□ Belum
5. Ingin Mengembangkan Bisnis Jangka Panjang
Marketplace adalah channel distribusi. Website adalah aset bisnis.
Jika Anda menjawab “Ya” pada minimal 3 poin di atas, kemungkinan besar bisnis Anda sudah siap memiliki website sendiri.
Baca juga: Tanda Bisnis Anda Sudah Siap Punya Website Ecommerce Sendiri
Langkah 1 — Pilih Platform Website yang Tepat
Tidak semua website dibuat dengan tujuan yang sama.
Untuk bisnis yang ingin berjualan online, fokuslah pada platform yang mudah digunakan, fleksibel, dan dapat berkembang mengikuti kebutuhan bisnis.
Beberapa pilihan yang umum digunakan:
| Platform | Cocok Untuk |
| WordPress + WooCommerce | UMKM hingga brand berkembang |
| Shopify | Brand dengan fokus internasional |
| Custom Development | Kebutuhan kompleks |
Untuk sebagian besar bisnis di Indonesia, WordPress dan WooCommerce sering menjadi pilihan karena fleksibel dan biaya pengembangannya relatif lebih efisien.
Hal yang perlu diperhatikan:
- Mudah dikelola
- SEO friendly
- Mendukung payment gateway
- Mendukung integrasi logistik
- Mudah dikembangkan di masa depan
Langkah 2 — Cara Migrasi Data Customer dari Marketplace
Salah satu kekhawatiran terbesar seller adalah kehilangan pelanggan ketika mulai membangun website.
Faktanya, Anda tidak perlu memindahkan semuanya sekaligus.
Yang perlu dilakukan adalah mulai mengarahkan pelanggan untuk mengenal brand Anda secara langsung.
Beberapa cara yang umum digunakan:
Tambahkan Website pada Kemasan
Setiap pesanan yang dikirim dapat menyertakan informasi website.
Gunakan QR Code
Arahkan pelanggan ke website untuk mendapatkan promo atau informasi produk terbaru.
Bangun Program Membership
Website dapat menjadi pusat program loyalitas pelanggan.
Kumpulkan Database Pelanggan
Dengan izin pelanggan, bisnis dapat mulai membangun database email atau WhatsApp untuk kebutuhan komunikasi jangka panjang.
Langkah 3 — Setup Payment Gateway dan Logistik Otomatis
Salah satu alasan marketplace populer adalah proses checkout yang mudah.
Karena itu website juga harus memberikan pengalaman yang sama.
Komponen yang perlu disiapkan:
Payment Gateway
Mendukung:
- Transfer Bank
- Virtual Account
- E-Wallet
- QRIS
- Kartu Kredit
Integrasi Logistik
Mendukung:
- JNE
- J&T
- SiCepat
- AnterAja
- Ninja Xpress
Dengan sistem yang tepat, proses checkout di website dapat berjalan hampir sama praktisnya dengan marketplace.
Langkah 4 — Mendatangkan Traffic ke Website Baru
Ini adalah tahap yang paling sering ditanyakan.
“Kalau punya website, traffic-nya dari mana?”
Jawabannya: dari channel yang selama ini sudah dimiliki bisnis.
Beberapa sumber traffic yang paling efektif:
SEO (Google Search)
Mendatangkan pengunjung secara organik melalui artikel dan halaman produk.
Meta Ads
Menjangkau calon pelanggan baru melalui Facebook dan Instagram.
Google Ads
Menjangkau orang yang sedang mencari produk secara aktif.
Email Marketing
Mendorong repeat order dari pelanggan lama.
WhatsApp Marketing
Menjaga hubungan dengan pelanggan yang sudah pernah membeli.
Website tidak menggantikan marketplace. Website menghubungkan seluruh channel pemasaran menjadi satu sistem.
Baca juga: Masih Ragu Bikin Website? Ini 5 Hal yang Sering Ditakutkan Pebisnis
Langkah 5 — Jalankan Marketplace dan Website Secara Paralel
Kesalahan terbesar yang sering dilakukan adalah menganggap website dan marketplace harus dipilih salah satu.
Padahal strategi yang digunakan banyak brand besar justru menjalankan keduanya secara bersamaan.
| Marketplace | Website |
| Akuisisi Customer Baru | Branding |
| Traffic Instan | SEO Jangka Panjang |
| Validasi Produk | Repeat Order |
| Promosi Marketplace | Database Pelanggan |
Marketplace tetap digunakan untuk mendapatkan pelanggan baru.
Website digunakan untuk membangun aset digital dan meningkatkan nilai pelanggan dalam jangka panjang.
Studi Kasus: Turu Bed & Okane
Banyak brand Indonesia yang awalnya berkembang melalui marketplace kemudian mulai membangun website sendiri sebagai channel utama.
Turu Bed
Turu Bed membangun website untuk memperkuat pengalaman pelanggan dan meningkatkan kontrol terhadap branding.
Dengan website, pelanggan dapat memperoleh informasi produk yang lebih lengkap dibanding marketplace.
Okane
Okane juga menggunakan website sebagai pusat aktivitas digital brand.
Website memungkinkan brand membangun komunikasi yang lebih konsisten, memperkuat positioning, dan menciptakan pengalaman belanja yang lebih terintegrasi.
Dari kedua contoh tersebut, pelajaran yang dapat diambil adalah:
- Marketplace membantu mendapatkan pelanggan.
- Website membantu membangun brand.
- Keduanya dapat berjalan berdampingan.
Kesimpulan
Marketplace tetap menjadi salah satu channel penjualan terbaik untuk mendapatkan pelanggan baru. Namun semakin besar bisnis berkembang, semakin penting pula memiliki aset digital yang dapat dikendalikan sendiri.
Website membantu bisnis membangun branding, mengumpulkan data pelanggan, meningkatkan repeat order, dan mengurangi ketergantungan terhadap perubahan kebijakan platform marketplace.
Yang terpenting, Anda tidak harus memilih salah satu.
Strategi yang banyak digunakan brand modern adalah menjalankan marketplace dan website secara paralel agar bisnis memiliki sumber pertumbuhan yang lebih stabil dalam jangka panjang.
Konsultasi Gratis — Hitung Berapa yang Bisa Anda Hemat
Masih penasaran berapa biaya marketplace yang sebenarnya Anda bayarkan setiap bulan?
Gunakan kalkulator efisiensi marketplace Jangkar untuk menghitung estimasi biaya berdasarkan omzet bisnis Anda dan melihat potensi penghematan yang dapat diperoleh dengan membangun channel penjualan sendiri.
✔️ Website & aset digital menjadi milik penuh klien setelah kontrak selesai
✔️ Data pelanggan menjadi milik bisnis
✔️ Tidak bergantung sepenuhnya pada platform marketplace
✔️ Dirancang untuk pertumbuhan bisnis jangka panjang
Baca juga: Website yang Bagus Bisa Jadi Sales 24 Jam untuk Bisnis Anda
![Biaya Komisi Marketplace Indonesia 2026: Shopee, Tokopedia, Lazada & TikTok Shop [Data Lengkap]](https://jangkar.io/wp-content/uploads/2026/06/JTI-1.webp)


